Jakarta, Intra62.com – Wakil Presiden (Wapres) RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri adalah pemimpin negara paling demokratis dalam sejarah Indonesia.
Hal itu diungkapkannya saat mengikuti pembukaan Forum Habibie untuk Demokrasi di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Rabu (15/11/2023).
Baca Juga: Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri Berpidato Terkait Putusan Perkara 90
“Ibu Mega memang paling demokratis,” ujarnya di forum tersebut.
Menurutnya, pada pemilihan umum (Pemilu) tahun 2004, Megawati mempunyai peluang untuk menggunakan kekuasaannya untuk memenangkan pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2004, meski ia tahu dirinya masih menjadi Presiden Republik Indonesia.
Namun, lanjut JK, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tidak berusaha menggunakan kekuasaannya sehingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan JK mampu memenangkan pemilu tahun 2004.
“Karena ketika dia berkuasa, dia tidak menggunakan kekuasaan berkuasa pada tahun 2004, sehingga saya dan Pak SBY bisa mengalahkan Bu Mega. Jika kami menggunakan kekuasaan, kami akan kalah. Tapi, dia tidak melakukan itu,” ungkapnya.
Jadi menurutnya, pemimpin nasional memang harus memberi contoh. Ia juga merinci bagaimana para pemimpin Indonesia sebelumnya kehilangan kekuasaan akibat krisis ini.
“Bung Karno juga tumbang karena dua hal yang terjadi bersamaan, krisis politik dan krisis ekonomi. Soeharto tumbang karena dua krisis sekaligus,” ujarnya.
JK kemudian mengatakan, Habibie akhirnya mengundurkan diri setelah satu setengah tahun berkuasa karena momentum demokrasi pasca tumbangnya Orde Baru. Lanjutnya, Gus Dur mengundurkan diri karena tidak menghormati demokrasi.
“Dia (Gus Dur) mengeluarkan dekrit pembubaran DPR dan Golkar. Jatuh juga,” tuturnya.
Sedangkan SBY, kata JK, juga merupakan pemimpin yang mengusung demokrasi.
“Bahkan pada pemilu 2009, banyak orang yang melontarkan rumor yang tidak bagus”, imbun JK. (red/intra62)
