• Sun. Apr 19th, 2026

Ganjar Pranowo Mengaku Partainya Sedih Ditinggalkan Sosok Ini

ByIM

Nov 1, 2023
Ganjar Pranowo Mengaku Partainya

Jakarta, Intra62.com – Calon Presiden PDI-P Ganjar Pranowo Mengaku Partainya Sedih Ditinggalkan Kepala Negara. Namun, Ganjar Pranowo menegaskan, partai berlogo banteng berhidung putih itu tidak mudah menangis meski ditinggalkan.

“Sedih memang ada, tapi kita jangan menangis, banteng jangan menangis! Bateng yang kuat segera bergerak,” kata Ganjar saat ditemui di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jakarta, Minggu (29/10/2023).

Ganjar menegaskan, PDI Perjuangan tidak terbawa perasaan sedih setelah ditinggalkan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang strategi politiknya mendukung Prabowo-Gibran.

Ia mencontohkan perjuangan PDI-P pada peristiwa 27 Juli 1996 yang dikenal dengan kerusuhan 27 Juli (Kudatuli). Waktu itu terjadi pengambilalihan paksa kantor DPP Partai Demokrat Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat.

“Kita bukan sedih, tapi kita harus berjuang, PDI Perjuangan terjadi di PDI, kita juga dipukuli habis-habisan, dibakar, bahkan ada yang meninggal, jangan lupa Kudatuli lho, dan kita terus berjuang, kami tidak mengeluh atas semua yang terjadi,” tegas Ganjar Pranowo.

Baca Juga: Visi Misi Ganjar dan Mahfud Pemenangkan Pilpres 2024

Di sisi lain, mantan Gubernur Jawa Tengah itu tetap menghormati Jokowi dan Gibran Rakabuming yang punya pilihan lain selain PDI-P.

“Hingga sekarang saya tetap hormati Pak Jokowi, saya hormati Mas Gibran, sebagai pilihan politik,” tutur Ganjar.

PDI-P dikabarkan merasa sangat sedih karena ditinggalkan oleh Presiden RI Joko Widodo. Hal itu diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI-P Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis yang dikirimkan ke grup media, Minggu (29/10/2023).

“PDI Perjuangan saat ini sedang dalam suasana sedih, sakit hati, dan pasrah dihadapan Tuhan dan masyarakat Indonesia atas apa yang terjadi saat ini,” ucap Hasto.

Menurut Hasto, banyak anggota basis PDI Perjuangan yang menilai kader-kader terbaiknya siap meninggalkan Partai Banteng yang membesarkan nama mereka.

Faktanya, Jokowi mendapat dukungan dari akar rumput dan seluruh pendukung PDI Perjuangan sejak menjadi Wali Kota Solo hingga menjadi kepala negara.

Hasto mengatakan, sejak adanya isu PDI-P akan ditinggalkan, seluruh kader dan simpatisan berharap hal tersebut tidak akan terjadi. Tetapi, pada kenyataannya Jokowi yang didukung sejak menjabat Wali Kota Solo, Gubernur DKI dan Presiden RI dua periode itu benar-benar meninggalkan PDI-P.

Adanya perubahan sikap Jokowi terlihat saat merestui putra sulungnya yang saat ini maju sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto. Padahal, Jokowi dan Gibran merupakan kader Partai Moncong Banteng Putih yang menyatakan dukungannya terhadap Ganjar Pranowo yang diusung PDI-P sebagai calon presiden yang akan mereka dukung.

Beberapa Pihak Menilai Jalan Kepala Negara Ini Sebagai Upaya Mempertahankan Kekuasaan Guna Membangun Dinasti Politik.

Kemudahan pendaftaran Gibran, 36 tahun, sebagai cawapres tak lepas dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Membolehkan cawapres berusia di bawah 40 tahun dengan syarat ia pernah menjabat sebagai kepala daerah dan dipilih melalui pemilu.

Putusan ini menuai kontroversi di kalangan masyarakat karena Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman tak lain adalah paman Wali Kota Solo. (red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/