Jakarta, Intra62.com – Sejarah TNI menjadi informasi penting yang membantu mengingat awal terbentuknya militer Indonesia. TNI telah menghadapi banyak peristiwa bersejarah.
Setiap tahunnya tanggal 5 Oktober diperingati sebagai hari lahir Tentara Nasional Indonesia atau Hari Tentara Nasional. Tanggal 5 Oktober 2023 merupakan peringatan 78 tahun berdirinya TNI. Tidak ada salahnya mengenang masa lalu militer Indonesia. Berikut sejarah terbentuknya TNI.
Baca Juga: Pemilu 2024 Bertepatan Dengan HUT TNI
Sejarah TNI
Sebelum bernama Tentara Nasional Indonesia, Tentara Nasional Indonesia pertama kali dikenal dengan nama Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang didirikan pada tahun 1945. Saat itu BKR dipimpin oleh Dr. Sutomo dan Sjahrir.
BKR didirikan hanya beberapa minggu usai proklamasi Indonesia kemerdekaan pada (17/8/1945). Pembentukan organisasi ini dilakukan sebagai respons terhadap ketidakstabilan dan ancaman keamanan nasional yang ada saat itu.
Anggota BKR adalah pejuang kemerdekaan dari berbagai kelas dan kelompok. Ada yang merupakan mantan tentara PETA, namun ada juga relawan yang ingin membantu menjaga keamanan dan ketertiban di awal kemerdekaan.
Tak lama kemudian, nama BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pembentukan TKR diumumkan melalui keputusan presiden tanggal (5/10/1945). Jenderal Soedirman diangkat sebagai panglima TKR yang pertama.
Sejak berdirinya Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 5 Oktober, hari ini menjadi Hari Tentara Nasional Indonesia (memperingati TNI).
Berdasarkan laman resmi TNI, untuk menyempurnakan komposisi sesuai standar militer internasional, nama TKR kemudian diubah menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI).
Perubahan nama dari TKR menjadi TRI terjadi pada tanggal (5/1/1946). Kemudian, nama satuan militer Indonesia diubah lagi dari TNI menjadi Tentara Nasional Indonesia pada tanggal (3/6/1947).
Pendirian ini dilakukan sebagai respon terhadap invasi tentara Belanda yang dimulai pada tanggal (21/7/1947) dengan invasi ke Indonesia untuk mendapatkan kembali kendali atas wilayah jajahannya.
Setelah berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB), pada akhir tahun 1949, tentara nasional berganti nama lagi menjadi Angkatan Perang RIS (APRIS), gabungan dari Angkatan Perang RIS (APRIS). Gabungan TNI dan KNIL dengan TNI sebagai intinya.
Pada bulan Agustus 1950, RIS dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negara kesatuan. APRIS pun berganti nama menjadi Angkatan Perang Indonesia (APRI).
Hingga akhirnya Indonesia memasuki era demokrasi liberal. Ini merupakan tugas yang sulit bagi tentara karena harus mencegah sejumlah pemberontakan internal.
Semuanya bermula pada tahun 1950, ketika beberapa mantan anggota KNIL memulai pemberontakan Tentara Ratu Adil/APRA di Bandung.
Kemudian di Makassar terjadi pemberontakan Andi Azis, dan di Maluku terjadi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).
Ada pula DII Jawa Barat yang memperluas pengaruhnya hingga Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Aceh.
Kemudian, pada tahun 1958, pemerintahan revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta) memimpin pemberontakan di sebagian besar wilayah Sumatera dan Sulawesi Utara, sehingga membahayakan integritas nasional.
Semua pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh TNI dan kekuatan komponen bangsa lainnya. Dari banyaknya pemberontakan ini muncul upaya menyatukan organisasi angkatan perang dan Kepolisian Negara menjadi organisasi Angkatan Bersenjata Republika Indonesia (ABRI) pada tahun 1962 merupakan bagian yang penting dari sejarah TNI pada dekade tahun enampuluhan.
Ketika menyandang nama ABRI, PKI mulai gencar melancarkan aksinya. Hingga aksi tersebut mencapai puncak di tahun 1965 ketika G30S PKI terjadi.
Dalam situasi ini ABRI mulai melaksanakan wewenangnya dari dua sisi, yakni sebagai hankam dan sospol. Dari situ, kontribusi ABRI dalam politik Indonesia mulai terlihat jelas ketika Soeharto menggantikan Soekarno menjadi Presiden.
Banyak pejabat ABRI yang mulai menduduki kursi di pemerintahan. Baru pada tanggal (22/8/1999), setelah lengsernya Soeharto, Angkatan Bersenjata Republika Indonesia (ABRI) resmi berganti nama menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Perubahan nama tersebut merupakan bagian dari reformasi militer yang dilakukan pemerintah Indonesia pada saat itu untuk memisahkan kekuatan militer dari kepolisian dan mengubah citranya dari militer yang lebih terlibat dalam urusan politik menjadi lebih fokus. (red/intra62)
