Jakarta, Intra62.com – Menurut Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), para praktisi kehumasan harus bekerja sama dengan inovasi kecerdasan artifisial (AI) untuk memajukan komunikasi publik.
Menurutnya, meskipun AI lebih canggih dan dianggap memiliki kemampuan untuk mengerjakan konten secara mandiri untuk komunikasi publik, peran manusia masih penting bagi AI, sehingga AI hanya perlu dijadikan mitra dan bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Dalam keterangan pers yang diterima dan dikonfirmasi pada hari Kamis, Nezar mengatakan, “Kesuksesan praktisi public relation di masa depan akan ditentukan oleh seberapa mahir kita menggunakan AI sebagai penguat strategis, dan seberapa teguh kita memegang standar etika dan kemanusiaan.”
Nezar menyebutkan bahwa AI saat ini dapat melakukan berbagai tugas komunikasi publik kehumasan, seperti menulis draft siaran pers, menganalisis data publik, dan memantau perasaan media.
Baca Juga : Purbaya Menanggapi Bantahan KDM Tentang Uang Jabar Mengendap Di Deposito Bank.
Selain itu, banyak agensi media dan agensi menggunakan AI untuk merencanakan kampanye komunikasi dan menulis laporan.
Namun demikian, untuk membuat narasi komunikasi publik kontekstual dan memenuhi unsur empati, semua pekerjaan ini membutuhkan sentuhan manusia.
Seringkali, hasil karya AI tidak memiliki sentuhan emosional yang hanya dapat dirasakan oleh manusia. Namun, PR berfokus pada individu yang ingin disampaikan. Dan kita bisa menggunakan semua kemampuan manusiawi kita untuk menceritakan cerita ini, katanya.
Nezar juga menyatakan bahwa AI mungkin melakukan kesalahan dalam penalarannya. Beberapa di antaranya adalah menggunakan kata-kata yang tidak masuk akal atau bahkan halusinasi untuk membuat kenyataan yang salah tentang masalah yang sedang muncul.
Oleh karena itu, sentuhan manusia, terutama bagi praktisi kehumasan yang menggunakan AI, sangat penting untuk menjamin komunikasi publik yang efektif sambil memanfaatkan kemajuan teknologi.
( Red ).
