• Sat. Apr 25th, 2026

Wakil Ketua MPR: Peran Wanita Dalam STEM Adalah Investasi Bangsa.

ByBunga Lestari

Mar 9, 2026

Jakarta, Intra62.com –

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) merupakan investasi strategis untuk memperkuat daya saing dan inovasi bangsa Indonesia di masa depan.

Menurut dia, sejumlah data menunjukkan masih adanya kesenjangan gender dalam bidang STEM, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja. Padahal, sektor STEM merupakan fondasi utama bagi pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan transformasi digital.

“Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka,” kata Mbak Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, di Jakarta, Senin.

Dia menunjukkan bahwa data yang dikumpulkan oleh International Labour Organization (ILO) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 35 persen dari lulusan STEM di Indonesia adalah perempuan, dan hanya sekitar 8 persen dari mereka yang benar-benar bekerja di bidang tersebut.

Artinya, sebagian besar perempuan yang mendapatkan gelar di bidang sains dan teknologi (STEM) tidak bekerja di bidang tersebut.

Dia menyatakan, “Data ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan pada kemampuan akademik perempuan.”

Dia menyatakan bahwa hambatan tersebut sering muncul sejak usia dini karena ekspektasi sosial yang membangun kepercayaan diri anak perempuan dalam bidang sains dan teknologi. Dia mengatakan bahwa situasi ini menyebabkan banyak perempuan tidak melihat STEM sebagai jalan karier yang mungkin bagi mereka.

Sebaliknya, Rerie menyatakan bahwa seiring pertumbuhan ekonomi digital dan kecerdasan buatan, kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat.

Jadi, langkah strategis untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi perubahan global adalah dengan meningkatkan partisipasi perempuan dalam STEM.

Dia menyatakan bahwa jika setengah potensi intelektual negara tidak diberi kesempatan yang sama untuk berkembang, maka kita akan kehilangan peluang besar untuk meningkatkan inovasi dan daya saing nasional.

Untuk alasan ini, Rerie juga mendorong agar kebijakan pengembangan sumber daya manusia dan sistem pendidikan memberi perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.

Dia menyatakan bahwa institusi pendidikan tinggi harus membuat lingkungan belajar yang inklusif yang memungkinkan perempuan berpartisipasi secara aktif dalam penelitian, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.

Dia percaya bahwa membuat ekosistem pendidikan yang inklusif akan memberi generasi muda perempuan lebih banyak peluang untuk berkontribusi pada teknologi, ilmu pengetahuan, dan inovasi.

Dia menyatakan bahwa dengan memberi perempuan akses yang lebih besar ke bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/