Jakarta, Intra62.com – Josua Pardede, kepala ekonom Permata Bank, mengatakan bahwa berbagai faktor domestik dan internasional berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah, yang menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa.
Investor mungkin lebih berhati-hati saat berinvestasi di aset berdenominasi rupiah karena tekanan yang ada.
Josua menjelaskan dari perspektif global bahwa dua faktor utama yang menekan rupiah adalah kenaikan harga minyak global dan penguatan dolar AS sebagai akibat dari konflik yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Karena Indonesia sangat tergantung pada impor energi, sehingga rentan terhadap kenaikan harga minyak dan pergerakan modal asing.
Josua menyatakan dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026, yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Selasa, bahwa dua faktor tersebut memiliki dampak terhadap ekonomi kita relatif lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain, sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah kita.
Kekhawatiran pasar meningkat karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan beban impor dan mengancam stabilitas fiskal nasional. Pada saat yang sama, arus modal asing mengalir keluar karena dolar AS menguat.
Meskipun demikian, tekanan pada rupiah di dalam negeri juga disebabkan oleh hasil Review MSCI Index periode Mei 2026, yang akan diumumkan pada Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.
Hasil peninjauan berkala terhadap berbagai indeks global, termasuk saham-saham Indonesia yang masuk dan keluar dari indeks tersebut, akan diumumkan oleh MSCI.
Untuk peninjauan kali ini, MSCI menggunakan standar yang lebih ketat terkait konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi (HSC). Dipertimbangkan apakah kebijakan tersebut akan berdampak pada saham-saham besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas dan berpotensi mengalami penyesuaian bobot indeks.
Selain itu, Josua menyatakan bahwa minat risiko investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik juga dipengaruhi oleh penurunan prospek peringkat kredit Indonesia pada awal tahun oleh Moody’s Ratings dan Fitch Ratings.
“Kita bisa lihat bahwa rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian atau peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap risiko appetite investor asing, khususnya terhadap aset berdenominasi rupiah kita,” katanya.
Sebaliknya, Josua menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak dapat dibandingkan dengan krisis moneter 1997-1998. Cadangan devisa dan utang luar negeri pemerintah Indonesia saat ini jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Josua juga berpendapat bahwa pelemahan nominal rupiah saat ini lebih banyak disebabkan oleh sentimen jangka pendek daripada masalah ekonomi fundamental. Ini berarti bahwa rupiah secara riil masih berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya.
Oleh karena itu, stabilitas rupiah di masa depan akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global serta reaksi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Karena fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, ruang untuk penurunan suku bunga acuan semakin terbatas.
Baca Juga : Rupiah Memainkan Peran Penting Dalam Mengarahkan Dana Asing ke Pasar Saham
Baca Juga : BI: Meningkatnya Ketidakpastian Global Memengaruhi Tekanan Rupiah Saat Ini.
(Red).
