Jakarta, Intra62.com -Kurs rupiah diprediksi melemah sebagai akibat dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS, menurut Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures.
Menurutnya, setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS karena kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Sabtu (3/1), bahwa AS telah melancarkan serangan besar ke Venezuela, yang mengakibatkan penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan pemindahan mereka ke luar negeri.
Sebuah ledakan di Caracas dikaitkan dengan operasi Delta Force AS, menurut beberapa media.
Sekurang-kurangnya 4.800 orang tewas, termasuk warga sipil dan anggota militer, menurut laporan harian The New York Times.
Anadolu menyatakan bahwa AS akan mengontrol Venezuela untuk sementara waktu, termasuk mengerahkan pasukan AS jika diperlukan, sesuai dengan instruksi Trump.
Maduro dan istrinya kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn, setelah tiba di New York pada Sabtu (3/1) malam.
Keduanya menghadapi dakwaan federal di AS karena perdagangan narkoba dan dugaan kolaborasi dengan kelompok kriminal yang diidentifikasi sebagai organisasi teroris. Maduro menolak semua tuduhan tersebut.
Lukman berpendapat bahwa masalah ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama dan akan menjadi sentimen yang signifikan yang akan melemahkan nilai tukar rupiah.
Dia menyatakan, “Menurut saya, pasar paling tidak hanya bereaksi sesaat.”
Dengan mempertimbangkan faktor ini, kurs rupiah diproyeksikan berkisar antara Rp16.650 dan Rp16.800 per dolar AS.
Baca Juga : Kerugian Negara Ratusan Triliun Rupiah Korupsi 2025
(Red)
