Jakarta, Intra62.com – Reydi Octa, seorang pengamat pasar modalpasar modal, memproyeksikan bahwa saham-saham di pasar saham Indonesia yang berkaitan dengan perbankan dan komoditas dapat meningkat atau bergerak ke arah yang lebih kuat.
Salah satu penyebabnya adalah karena pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengeluarkan kebijakan yang memberikan dampak positif pada sektor tersebut selama satu tahun.
sektor perbankan yang sensitif terhadap suku bunga, komoditas logam, nikel, dan emas yang harganya terus meningkat berpotensi mengalami pergeseran arah yang lebih kuat dalam waktu dekat.
Reydi mengatakan bahwa beberapa kebijakan, seperti pelonggaran kebijakan moneter, dorongan untuk industri sawit untuk menghasilkan biodiesel, kenaikan anggaran untuk sektor kesehatan, dan penundaan cukai rokok, telah membantu ekonomi domestik.
Baca Juga : Prabowo Menyaksikan Penyerahan Uang Rp13 Triliun Korupsi CPO Ke Kejagung.
Selain itu, ia menyatakan bahwa momentum positif telah ditingkatkan oleh upaya pengalihan dana saldo anggaran lebih (SAL) dari Bank Indonesia (BI) ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan rencana investasi Danantara Indonesia untuk memberikan likuiditasnya ke pasar saham Indonesia.
Reydi menyatakan bahwa langkah-langkah seperti pemindahan dana BI ke Himbara serta rencana investasi Danantara yang meningkatkan likuiditas dan aliran dana ke IHSG meningkatkan momentum positif.
Kebijakan ini dibuat selama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selama satu tahun, mulai 20 Oktober 2024.
Reydi memperkirakan bahwa pasar saham Indonesia dapat terus meningkat di masa mendatang jika defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat dipertahankan.
Selain itu, dia mengatakan bahwa itu hanya akan terjadi jika pemerintah juga dapat mempertahankan stabilitas hubungan luar negeri mereka dalam upaya mengurangi risiko ketidakpastian ekonomi dan geopolitik di seluruh dunia.
( Red ).
