Jakarta, Intra62.com –
Meskipun dihadapkan pada tantangan global yang semakin kompleks dan potensi El Niño, Kepala Badan Pangan Nasional (Kabapanas) dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa ketersediaan pangan strategis nasional diproyeksikan berada dalam kondisi surplus.
Amran mengatakan bahwa langkah antisipatif diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan nasional karena dinamika geopolitik global dan perubahan iklim merupakan faktor utama yang mempengaruhi produksi dan distribusi pangan.
Dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa, Amran menyatakan bahwa ketersediaan komoditas pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional hingga Mei 2026.
Pemerintah menjaga kondisi neraca pangan nasional tetap stabil dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara cukup dan berkelanjutan meskipun menghadapi berbagai masalah tersebut.
Berdasarkan proyeksi, beberapa komoditas utama akan mengalami surplus besar hingga Mei 2026. Beras akan mencapai 16,39 juta ton dan jagung akan mencapai 4,3 juta ton.
Selain itu, ada surplus sebesar 632 000 ton gula konsumsi, 837 000 ton daging ayam, dan 423 000 ton telur ayam.
Untuk menjaga stabilitas nasional, pemerintah menggunakan Perum Bulog, yang saat ini memiliki stok mencapai 4,6 juta ton, untuk memastikan ketersediaan cadangan pangan.
Dalam hal harga, keadaan makanan selama bulan puasa Ramadhan 1447 Hijriah secara umum relatif stabil. Namun, ada beberapa komoditas yang sempat mencapai harga eceran tertinggi (HET), tetapi tetap dalam batas wajar.
Selain itu, inflasi pangan menunjukkan tren penurunan yang positif, menunjukkan stabilitas harga yang semakin membaik, turun dari 2,5% pada Maret 2026 menjadi 1,58%.
Amran juga mengatakan bahwa Bapanas telah melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pangan, seperti membentuk Satgas Saber Pelanggaran Pangan tahun 2026 dan mengirimkan SPHP beras dan jagung.
Selanjutnya, Gerakan Pangan Murah (GPM) dilaksanakan secara luas, bantuan pangan diberikan kepada 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM), distribusi yang lebih mudah dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit, dan peningkatan pemantauan harga melalui panel harga pangan secara nasional.
Baca Juga : Kepala Kejari Lombok Tengah Meminta SPPG Menyebarkan Menu MBG di Media Sosial.
Baca Juga : Sejak 2025, Amar Bank Cetak Laba Bersih Sebesar Rp249,6 Miliar.
(Red).
