Surabaya , Intra62.com . Korlap : Kericuhan dari penyusup, di Polrestabes Surabaya dilempar batu. Gubernur Jawa Timur atau Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menemui massa demonstran di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jawa Timur, sekitar pukul 21.00 WIB, Sabtu (30/8/2025).
Dia menyampaikan pihaknya berkoordinasi dengan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya terkait pembebasan massa aksi yang ditahan, menyusul sudah ada dua orang dibebaskan siang tadi.
“Sekarang masih di Polrestabes Surabaya, dibebaskan malam ini. Bisa bertelfon dengan Pak Kapolda (Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur), karena tadi siang sudah ada dua yang dibebaskan. Jadi kita akan koordinasi ke Poltabes,” ujar Gubernur Jatim Khofifah, Sabtu (30/8/2025).
Menurutnya, warga Jawa Timur yang ditahan adalah masyarakat yang selama ini bekerja keras dan berkontribusi positif dalam pembangunan.
Khofifah menyatakan, “Ya tentu harapannya kalau sudah tercapai, saya rasa mereka warga Jatim yang baik, yang saya bersama di pemerintahan selama lima tahun ini, mereka telah bekerja keras luar biasa.”
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansajuga mengimbau masyarakat untuk menghindari provokasi saat demonstrasi. “Saya berharap tidak anarkis atau terprovokasi,” kata Khofifah.
Saat ini, massa memadati area depan Gedung Negara Grahadi Surabaya sambil melempar botol, membakar, dan menyalakan petasan.
“Ya tentu harapannya kalau sudah tercapai, saya rasa mereka warga Jatim yang baik, yang saya bersama di pemerintahan selama lima tahun ini, mereka telah bekerja keras luar biasa,” kata Khofifah.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansajuga meminta masyarakat untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan selama demonstrasi.
Menurut Rahmat, siswa yang awalnya berorasi akhirnya menarik diri dan mundur. Dia menyatakan bahwa kerusuhan diduga dilakukan oleh massa bukan mahasiswa. Mereka melemparkan batu, kayu hingga petasan ke dalam Polrestabes Surabaya.
Segera setelah pejabat Polrestabes Surabaya memberikan pernyataan di depan barisan mahasiswa, terjadi kericuhan.
Sementara itu, seorang korlap demonstrasi berteriak bahwa kekacauan merupakan tanda adanya penyusup. Dan itu bukan barisan mahasiswa kami, kata dia.
Kericuhan dari Penyusup
Sebelum ini, mereka menyatakan bahwa sekitar empat puluh hingga lima puluh orang masih belum dibebaskan dari Polrestabes Surabaya.
Korlap berteriak, “Bebaskan kawan kami. Bebaskan kawan kami,” disambut teriakan dari massa aksi. Khofifah berharap tidak anarkis atau terprovokasi.
Saat ini, sejumlah orang memadati area depan Gedung Negara Grahadi Surabaya sambil melempar botol, membakar, dan menyalakan petasan.
Mahasiswa ITS melemparkan bunga-bunga yang mereka bawa ke pintu gerbang Polrestabes Surabaya sembari berteriak agar rekan-rekannya dibebaskan.
Ada kawan kita di sana. tertahan. Meskipun dia bukan seorang penjahat. Korlap lain menyatakan, “Kami meminta teman-teman kami dibebaskan.”
Minta tolong bebaskan kawan kami,” tandasnya, menegaskan bahwa polisi seharusnya melindungi masyarakat, bukan malah menahan rakyat.
Barisan polisi yang berjaga di dalam Polrestabes Surabaya dari awal akhirnya menembakkan gas air mata untuk memecah massa.
Hingga pukul 17.00 WIB, keadaan tetap tidak aman. Beberapa remaja yang dianggap sebagai provokator ditahan.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, bersama dengan massa dari berbagai elemen masyarakat, melakukan demonstrasi di depan Mapolrestabes Surabaya pada hari Sabtu, 30 Juni 2020. Unjuk rasa berkembang dengan cepat.
Menurut Rahmat, pedagang soto ayam dari Kapasan yang sering mangkal di sekitar Polrestabes Surabaya, pada hari Sabtu (30/8) ada satu anak kecil yang menyalakan petasan saat demo tadi ditangkap polisi di depan Polrestabes Surabaya. Menurut Rahmat, siswa yang awalnya berorasi akhirnya menarik diri dan mundur.
Dia menyatakan bahwa kerusuhan diduga dilakukan oleh massa bukan mahasiswa. Mereka melemparkan batu, kayu hingga petasan ke dalam Polrestabes Surabaya.
Baca juga : Merekam kehangatan polisi terhadap dibalik demonstran
(anisa-red)
