• Fri. May 1st, 2026

Kompleksitas gempa magnitudo 7,4 di Maluku ditemukan oleh PGS.

ByBunga Lestari

Apr 2, 2026

Jakarta, Intra62.com –

Menurut Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS), gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang terjadi di Laut Maluku pada Kamis pukul 06.48 WITA menunjukkan kompleksitas Zona Subduksi Ganda atau Double Subduction.

Dalam siaran persnya pada hari Kamis, Direktur PSG Ardy Arsyad menyatakan bahwa gempa ini dianggap sebagai sesar oblique-reverse (kombinasi sesar naik dan geser) yang terjadi di dalam lempeng (intraslab), bukan pada bidang kontak antarlempeng utama.

Dia menyatakan bahwa lokasinya di Zona Subduksi Ganda Laut Maluku, di mana dua lempeng samudera saling menghujam dari arah berlawanan (Sangihe dan Halmahera), menjadikan peristiwa ini signifikan secara ilmiah.

Dia menyatakan bahwa gempa yang terjadi tidak selalu mengikuti pola gempa subduksi atau megathrust konvensional karena kondisi ini menciptakan sistem tegangan yang kompleks.

Gempa dengan bidang sesar yang relatif curam dan kedalaman sekitar 30 kilometer tidak berasal dari thrust dangkal Sangihe (megathrust dangkal). Sebaliknya, itu adalah deformasi internal slab yang disebabkan oleh interaksi dua sistem subduksi.

Dia mengungkapkan bahwa fenomena ini menunjukkan adanya pembagian tegangan (pembagian tegangan) dan dinamika deformasi yang kompleks di wilayah Indonesia timur.

Menurut ahli geoteknik dan dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin ini, gempa tersebut memicu tsunami lokal berskala kecil di beberapa wilayah pesisir, meskipun gempa tersebut bukan gempa megathrust.

Ini menunjukkan bahwa tsunami masih dapat terjadi, tetapi dengan risiko yang lebih rendah daripada gempa sesar naik dangkal.

Dalam hal bahaya, gempa dengan magnitudo besar seperti ini dapat menyebabkan guncangan besar, terutama di tempat-tempat di mana tanah lunak dapat mengalami amplifikasi gelombang seismik.

Selain itu, area di mana sedimen jenuh air tetap ada memiliki potensi likuefaksi. Oleh karena itu, PSGS menekankan bahwa orang tidak perlu panik; sebaliknya, mereka harus tetap waspada terhadap gempa berikutnya dan mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait.

Selain itu, dia menyarankan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi cepat terhadap infrastruktur kritis di wilayah yang terdampak, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap kemungkinan tsunami lokal, dan memperkuat mitigasi yang didasarkan pada peta risiko dan kondisi geologi setempat.

Ia menjamin bahwa PSGS akan terus menganalisis peristiwa ini, termasuk hubungannya dengan dinamika tektonik regional dan dampaknya terhadap risiko kebencanaan di Sulawesi dan wilayah sekitarnya.

Baca Juga : Gempa Magnitudo 6,5 mengguncang Maluku, Berpusat di Laut

Baca Juga : BMKG: Selasa, Gempa Dangkal Mengguncang Sumedang, Disebabkan Oleh Sesar Lokal.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/