INTRA62.com – Jika kita membicarakan kerajaan di Indonesia mungkin yang pertama terpikir adalah Kerajaan Majapahit, Kahuripan ataupun Sriwijaya, namun pernahkah kamu mendengan tentang Kerajaan Wengker.
Letak Kerajaan Wengker berada di wilayah Ponorogo, memang kerajaan ini belum terlalu dikenal. Tetapi kerajaan ini mempunyai cerita permusuhan panjang dengan Airlangga pada saat berkuasa di Kerajaan Kahuripan.
Dalam Serat Centhini bait ke-213 menjelaskan bahwa pada masa Adipati Panji. Adipati Panji memiliki pura yang berada di Pronorogo atau Ponorogo. Bisa disebut pula sebagai Pura Wengker.
Konon Pura Wengker dihuni oleh pemimpin tertinggi di Ponorogo. Terdapat kisah bahwa ketika para putri dikirim dan sampai, justru mereka dikembalikan ke rumahnya masing-masing.
Pura Wengker dipimpin oleh para Adipati Pawengker bergantian secara teratur tanpa adanya campur tangan konflik suksesi. Gelar yang selalu dipakai adalah Adipati. Sehingga apabila Kerajaan Wengker dipimpin oleh seseorang yang jahat, maka Gusti Batoro Katong akan menghancurkan orang tersebut.
Menurut Sejarawan

Melansir dari sindonews.com, Dr Van Stein Callenfels penerjemah Serat Centhini sebagaimana dikisahkan pada “Antara Lawu dan Wilis : Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan Lucien Adam Residen Madiun 1934 – 1938)” menyimpulkan bahwa pura raja-raja Wengker berada di Desa Perdikan Setono yang ada di dekat Ponorogo, tempat Batoro Katong penguasa Islam pertama di Ponorogo tinggal bersama keturunannya.
Fakta tersebut memang tidak pernah dibantah oleh data historis, meskipun prasasti dari abad ke-10 dan awal ke-11 tidak menyebutkan tentang Wengker.
Namun, terdapat cerita yang menceritkan terntang kepulangan Rara Wijaya dari Wengker ke Keratonnya, yang bernama Keraton Tapa.
Baca juga : Sejarah Singkat Kerajaan Kutai, Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia
Disisi lain, Sejarawan Krom membantah penyataan tersebut. Ia menduga bahwa Tapa itu bukan tempat atau kerajaan, melainkan adalah sebuah tindakan seperti bertapa.
Airlangga dikisahkan mengusir sang raja (Rara Wijaya) dari keratonnya yang akhirnya melarikan diri ke Kapang dan Saroso.
Keluarga dan harta benda Rara Wijaya dari Kerajaan Wengker pun terpaksa ditinggalkan.
Pada 1035 perang Airlangga berakhir atas kemenangan Airlangga, sementara tempat pelarian itu (Kapang dan Saroso) yang dimaksud tersebut tidak pernah diketahui letaknya, sampai ketika Majapahit berkuasa, Wengker baru muncul kembali.
Namun pada saat masa Kerajaan Majapahit nama Wengker adalah sebuah gelar yang diberikan kepada anggota kerajaan.
