• Wed. Jun 3rd, 2026

Pulau Kemaro, Sebuah Kisah Urban Legend Palembang yang Berakhir Tragis

ByASD

Jul 12, 2023

Palembang, INTRA62.com – Salah satu tempat wisata yang terdapat di kota Palembang, Pulau Kemaro merupakan tempat sakral bagi masyarakat Tionghoa khususnya umat tridarma di Palembang.

Pada perayaan Cap Go Meh atau hari ke-15 setelah tahun baru Imlek biasanya para wisatawan ramai mengunjungi Pulau Kemaro.

Terdapat Vihara di lokasi tersebut dan juga pagoda 9 lantai dengan tinggi menjulang tepat ditengahnya.

Tak hanya itu, terdapat juga kisah dibalik Pulau Kemaro, yaitu cinta tragis yang menjadi awal mula Pulau tersebut. Terdapat juga makam Siti Fatimah dan Tambunan.

Lokasi Pulau Kemaro berada di tengah sungai Musi Palembang, untuk mengaksesnya dapat menggunakan ketek (Perahu motor khas Palembang) dari dermaga Benteng Kuto Besak selama 20 menit.

Namun, biasanya disediakan jembatan penyebrangan pada saat perayaan Cap Go Meh yang terbuat dari susunan tongkang.

Pulau ini dipercaya masyarakat Palembang berawal dari sebauah kisah cinta tragis Siti Fatimah dan Tambunan. Kabarnya Pulau ini tidak pernah tergenang air (tenggelam) walaupun sungai musi dalam keadaan pasang.

Kisah Cinta Siti Fatimah dan Tambunan
pulau kemaro palembang
Ilustrasi kisah cinta Siti Fatimah dan Tambunan (search google)

Dalam kisahnya Siti Fatimah merupakan seorang putri yang berasal dari kerajaan Palembang Sedangkan Tambunan merupakan pangeran dari Tiongkok.

Mulanya Tambunan datang ke Palembang untuk berdagang dan pertemuan pertama kalinya dengan Siti Fatimah adalah pada saat ia hendak meminta izin untuk berdagang kepada Raja Palembang.

Keduanya sama-sama menaruh hati, singkat cerita keduanya memamng mendapatkan restu dari masing-masing orangtua. Lalu Tambunan memboyong Siti Fatimah pulang ke negeri Tiongkok.

Baca juga : Kisah Mistis Goa Lalay Palabuhanratu, Sukabumi

Orang tua Tambunan memberikan hadiah pernikahan kepada anaknya berupa tujuh guci besar.

Siti Fatimah dan Tambunan pun membawa tujuh guci besar tersebut untuk dibawa ke Palembang.

Dalam Perjalanannya Tambunan yang merasa penasaran dengan isi yang ada di dalam guci besar tersebut, lantas membukanya di tengah sungai Musi.

Alangkah terkejutnya ia saat melihat isi guci tersebut berisikan sawi asin. Tambunan yang merasa marah lalu membuang guci-guci tersebut ke sungai Musi.

Namun tanpa disengaja guci yang terakhir terjatuh dan pecah, ternyata guci tersebut tidak hanya berisi sawi asin namun terdapat harta berupa emas didalamnya.

Melihat hal tersebut Tambunan langsung terjum ke sungai Musi untuk mengambil keenam guci yang lain.

Setelah beberapa lama Tambunan tidak kunjung terlihat, hal tersbut membuat sang kekasih Siti Fatimah memutuskan untuk menyusul Tambunan.

Setelah peristiwa tersebut di tempat Siti Fatimah dan Tambunan tenggelam muncul sebuah pulau kecil.

Pada pulau tersebut terdapat hal unik yaitu pulau tersebut tidak pernah tergenang oleh air bahkan saat sungai Musi sedang pasang tidak tenggelam. Akhirnya pulau tersebut dinamakan Pulau Kemaro yang memiliki arti Kemarau.

(red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/