Jakarta, Intra62.com – Pemahaman jurnalisme dan press (penekanan ) dan menjadikan sebuah karya untuk dapat merubah ,mengkoreksi,
mengkritisi,merubah membangun opinini bahkan menyangkal ,menuding,dari pemikiran yang patut untuk disajikan,disiarkan guna kepentingan publik agar terwakilkan . Jurnalis melihat ada pergeseran melihat mengganggu: profesi yang dulu rendah hati dalam mencari kebenaran kini kerap berubah menjadi panggung penghakiman.
Perubahan Wartawan tidak lagi sekadar bertanya. Ia merasa berhak mengadili. Menuding. Memaksa,
Pressure dan lebih dari jangkauan pikiran dan smart mencari celah inti
masalah merespon cepat sumber berita
dan kepatutanya menjadikanya concept trending topic ke media publik news
Di titik ini, kembali apakah ini membantu publik memahami? Apakah ini penting? , juga apakah ini berdampak?
Pertanyaan relevan ketika kita menyaksikan wawancara yang makin konfrontatif, bahkan agresif.
Sosok jurnalis dipuji karena keberaniannya. Namun keberanian dalam jurnalisme bukan soal menekan narasumber, mengungkapnya ,ada rasa peduli ,commonsence dan say sorry its true&falls .Ya katakan ya ,tidak katakan ,itu tidakbenar ,salah(judge)
Keberanian sejati adalah menahan diri — tidak tergoda merasa paling tahu, apalagi paling benar. Membawa dan memaksakan kebenarannya sendiri.
Tapi sesuatu pemikiran yg dapat mewakili opini publik nantinya ( think before click ) apalagi di era media digitalizer begitu cepat dan derasnya saat ini .Membombardir waktu destiny public focus of interest pada
News .

Dalam “The Elements of Journalism”, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menegaskan: jurnalisme adalah disiplin verifikasi, bukan panggung opini. Wartawan mencari kebenaran, bukan mengklaim
Kini garis itu kian kabur.
Jurnalis bergeser dari penanya menjadi “investigator moral” yang gemar menuding. Gaya konfrontatif ala jurnalis perang Italia, Oriana Fallaci (1929-2006) memang memikat. Tajam, dramatis, menggugah emosi. Namun tanpa kedalaman, ia berubah menjadi pertunjukan.
Wawancara bukan lagi proses menggali, melainkan panggung – untuk memuaskan penonton.
Pertanyaan disusun bukan untuk menjernihkan, tetapi untuk menjebak.
Narasumber diposisikan sebagai objek yang harus dipojokkan — bahkan dipermalukan.
Apakah ini penting? Belum tentu.
Apakah ini berdampak? Mungkin—tapi sebatas sensasi. Apakah ini membantu memahami? Di sinilah kita patut ragu.
Masalah lain muncul: narsisme profesi. Wartawan ingin menjadi pusat bahkan bernafsu jadi tokohnya.
Filsuf dan intelektual publik Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa televisi telah mendorong jurnalis menjadi aktor utama, bukan fasilitator dialog.
Akibatnya, publik tidak lagi fokus pada substansi, tetapi pada performa. Bukan apa yang dikatakan narasumber, melainkan bagaimana pewawancara menekan misalnya saat interview
Ironisnya, ini terjadi ketika ruang kebebasan media justru semakin terbuka. Kekuasaan yang tidak lagi represif memberi ruang bertanya.
Namun ruang ini sering disalahartikan sebagai lisensi untuk bertindak semaunya.
Dalam etika Society of Professional Journalists, ada prinsip yang kerap dilupakan: “minimize harm”. Mencari kebenaran tidak boleh merendahkan martabat narasumber. Apalagi sengaja memancing efek sensasi di balik upaya mengikofirmasi dan mengklarisikasi.
Jurnalisme bukan hanya interogasi. Jadikan sebuah percakapan untuk membuka wawasan juga krtisi dan saran guna membukanya, menelaah agar tercerna
sebelum tertelan komunikan (mass)
Jangan menolak wawancara keras. Dalam situasi tertentu, perlu — ketika narasumber menghindar atau publik butuh kejelasan ,kepastian
quick respon.
Pressure tekanan tanpa tujuan hanya menjadikanya kebisingan,mungkin memuaskan ego penanya, tetapi tidak memperkaya pemahaman,clear minds & back control
cover bothside .
Pada ujungnya, jadi pertanyaannya sederhana: apakah kita masih setia pada esensi jurnalisme dan press ,profesinya ?
Ataujah berubah menjadi aktor dalam drama yang kita ciptakan sendiri?
Jurnalisme yang kuat bukan yang paling lantang, melainkan yang paling jernih. Bukan yang menekan saja melainkan yang membuka wawasan ,wacana, membangun opini tapi dapat dijadikan tumpuan dasar pikiran.
mungkin, di tengah hiruk-pikuk ini, kita butuhkan bukan keberanian untuk menyerang—melainkan kerendahan hati untuk mendengar,melibatkan
bahwa ada kehadiran otoritas jurnalist press & otokritik .Salam Pena ( jack o.k.k ).
Burn,Storming & To change
Revolution Minds Fuction
(Red).
