Jakarta, Intra62.com – Menurut Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), kehadiran Program Studi Dokter Spesialis dan Subspesialis di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang diharapkan dapat mengurangi ketimpangan distribusi dokter spesialis di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di Kupang, Jumat, Sekretaris Jenderal Kemendiktisaintek Togar Mangihut Simatupang menyatakan, “Kita harapkan dengan adanya Prodi ini mampu mengatasi ketimpangan distribusi dokter spesialis di NTT.”
Setelah menghadiri peluncuran Prodi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Bali dan Nusa Tenggara, yang merupakan bagian dari program akselerasi untuk mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dia membuat pernyataan tersebut.
Peluncuran ini merupakan bagian dari kebijakan pemerataan tenaga medis di Indonesia, terutama di NTT.
Dalam pidato Sidang Umum MPR RI pada 15 Agustus 2025, Presiden RI menyatakan keprihatinannya tentang kurangnya ketersediaan dokter spesialis dan subspesialis di berbagai daerah.
Pemerintah kemudian berkomitmen untuk membuka 148 program studi subspesialis dan spesialis di seluruh negeri.
Dia bersyukur bahwa Kemendiktisainstek telah meluncurkan 160 program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis secara bersamaan di seluruh Indonesia, termasuk di Undana sebagai yang pertama di wilayah timur.
Dia menyatakan bahwa kehadiran prodi tersebut diharapkan dapat memberikan harapan baru kepada masyarakat, terutama di daerah terpencil dan kepulauan yang selama ini kekurangan tenaga dokter spesialis.
Togar menyatakan bahwa ada tiga alasan utama mengapa NTT dipilih sebagai salah satu lokasi pembukaan program studi.
Alasan filosofis pertama adalah bahwa NTT memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul, yang telah menghasilkan tokoh nasional seperti Ben Mboi, Frans Seda, dan Goris Keraf.
Selanjutnya, Kemendiktisainstek memutuskan bahwa Fakultas Kedokteran Undana siap dan mampu menjalankan pendidikan dokter spesialis.
Yang ketiga adalah komitmen kolaborasi antara Undana, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi mitra seperti Universitas Mataram dan Universitas Udayana untuk memerangi berbagai masalah kesehatan, termasuk tingginya angka kematian ibu dan bayi.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dapat mempercepat pemerataan layanan kesehatan dan menekan ketimpangan pembangunan di sektor kesehatan di NTT.
Baca Juga : Anggota Komisi IX Mengingatkan Bahwa Penambahan FK Tidak Mengabaikan Standar Dokter.
(Red).
