Jakarta, Intra62.com – PT Pertamina Patra Niaga menyatakan bahwa penggunaan etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) merupakan “best practice” di seluruh dunia untuk mengurangi emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, dan mendukung transisi energi yang berkelanjutan.
“Penggunaan etanol dalam BBM bukan hal baru, melainkan praktik yang sudah mapan secara global,” kata Roberth MV Dumatubun, Pj. Sekretaris Komersial Pertamina Patra Niaga, kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Roberth menjelaskan bahwa etanol, yang berasal dari tumbuhan seperti jagung dan tebu, lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar fosil murni.
Menurutnya, menambah etanol ke dalam BBM dapat meningkatkan kualitas udara dengan mengurangi emisi gas buang kendaraan, Ia juga menunjukkan bahwa etanol dalam BBM telah menjadi praktik umum di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.
Menurut program Renewable Fuel Standard (RFS) Amerika Serikat, pencampuran etanol ke dalam bensin dengan kadar umum E10 (10 persen etanol) dan E85 untuk kendaraan fleksibel telah diwajibkan.
Brasil juga menjadi pelopor penggunaan etanol berbasis tebu. Negara ini menerapkan standar nasional untuk mencapai campuran E27 (27 persen etanol) pada bensin, menjadikannya salah satu negara terbesar di dunia untuk kendaraan berbahan bakar etanol. Selain itu, penduduk Brasil telah terbiasa mengisi bensin dengan etanol selama beberapa dekade.
Dia menyatakan komitmen Pertamina Patra Niaga untuk terus mendukung kebijakan pemerintah untuk menurunkan emisi karbon sesuai target Net Zero Emission 2060.
Selain itu, kehadiran BBM dan campuran etanol untuk mengurangi emisi menunjukkan bahwa Indonesia bersedia mengikuti praktik terbaik dunia untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan
Pernyataan tersebut berkaitan dengan PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) yang menolak untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) base fuel dari Pertamina, karena hasil uji lab bahan bakar minyak base fuel yang diimpor oleh Pertamina menunjukkan kandungan etanol sekitar 3,5 persen.
(Red).
