Jakarta , Intra62.com . Nama asli Subang Larang adalah Kubang Kencana Ningrum. (Istri kedua Prabu Siliwangi) . Dia lahir pada tahun 1404 dari ayah Ki Gedeng Tapa, syahbandar pelabuhan Muara Jati, yang merupakan pelabuhan penting di utara Jawa Barat yang memiliki kekuasaan atas nagari atau kerajaan kecil Singapura.
Putra Prabu Anggalarang dari kerajaan Galuh, Prabu Siliwangi awalnya bernama Pamanahrasa. Saat itu, dua kerajaan besar yang masih berkerabat menguasai Jawa Barat: Galuh, yang berkuasa di Ciamis, dan Sunda, yang berkuasa di Pakuan Pajajaran (Bogor).
Raja Susuk Tunggal, bersaudara dengan prabu Anggalarang, memimpin kerajaan Sunda. Dua kerajaan besar ini menguasai sejumlah kecil nagari dan kerajaan seperti Singapura, Japura, dan Wanagiri.
Sebuah rombongan armada Cina yang dipimpin oleh Laksamana Zheng He (Cheng Ho) beragama Islam tiba di Muara Jati sekitar tahun 1415.
Pada tahun ini, Islam mulai dikenal di sana. Pada tahun 1418, Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik, seorang ulama Islam, datang dengan perahu dagang dari Campa, yang saat ini merupakan wilayah Vietnam dan sebagian Kamboja.
Ada yang mengatakan bahwa mereka berdua pergi dalam rombongan yang sama. Ketika Syekh Hasanuddin bertemu dengan Ki Gedeng Tapa, mungkin dia memeluk Islam.
Baca juga : Makam tua di Ngawen, Peninggalan Prabu Brawijaya V Raja Majapahit
Kemudian Syekh Hasanudin pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren yang disebut Pesantren Quro di daerah Pura, Desa Talagasari, Karawang. Di sana, Ki Gendeng Tapa menitipkan Nyai Subang Larang untuk belajar Islam kepada Syekh Quro. Nyai Subang Larang belajar Islam di sana selama dua tahun, dan Syekh Quro memberinya gelar Sub-ang Larang (Pahlawan Berkuda). Sekitar tahun 1420, Subang Larang kembali ke Muara Jati.
Sekitar tahun 1420-an, Ki Gedeng Tapa mengadakan sayembara satria. Yang menang akan memperistri putrinya, Nyai Subang Larang.
Pamanah Rasa menang
Pamanah Rasa menang dalam sayembara itu dan berhak memperistri Nyai Subang Larang. Menurut cerita, Amuk Marugul, putra Prabu Susuk Tunggal (Kerajaan Sunda), yang ternyata masih memiliki hubungan saudara dengannya, adalah musuh terbesar Pamanah Rasa.
Setelah itu, Pamanah Rasa pergi ke Pakuan, kerajaan Sunda. Di sana, ia bertemu dengan Kentring Manik Mayang Sunda, adik Amuk Marugul, putri prabu Susuk Tunggal, yang juga ua-nya sendiri. Terlepas dari fakta bahwa ia sudah menikahi Subang Larang, ia juga menikahi Kentring Manik Mayang.
Setelah pernikahannya ini Pamanah Rasa kemudian diangkat menjadi putra mahkota oleh Susuk Tunggal karena dianggap lebih cakap daripada Amuk Marugul.
Pamanah Rasa kemudian memboyong Subang Larang untuk tinggal di keraton Pakuan Pajajaran (Bogor) bersama Istri yang lain. Di kemudian hari Pamanah Rasa diangkat menjadi raja dan bergelar Prabu Siliwangi.
Dalam tahun 1423, Subang Larang memiliki tiga anak: Raja Sangara (1428), Nyai Lara Santang (1426), dan Raden Walangsungsang (1423). Setelah Subang Larang meninggal, anak-anaknya meninggalkan Keraton Pakuan untuk menganut agama Islam.
Ketiga anaknya inilah yang kemudian memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam di Jawa Bagian Barat.
Sekitar tahun 1441, Nyai Subang Larang meninggal di keraton Pakuan, dan abdi dalemnya membawa jenazahnya ke Muara Jati untuk dimakamkan. Salah satu abdi dalemnya, Eyang Gelok, dimakamkan di kampung Cipicung, desa Kosambi, kecamatan Cipunagara.
Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720, menceritakan kisah Nyai Subang Larang. ( redx)
