Jakarta , Intra62.com . Majunya Capres Prabowo hanya pemecah suara di Pilpres 2024 , benarkah ? . Pertanyaan retoris ini menjadi pilihan editorial intra62 pagi ini , ( 9 /8/2023 ) . Hegemoni politik dan bisnis menjadi oligarki kekuasaan yang powerfull dalam mencekram geopolitik di Nusantara .
Tak elak lagi bargaining posisi saling adu strategi untuk menggali dan mencuri hati rakyat menjadi mandatory . Lalu siapa pemenang piplres 2024 ?. mari kita simak ulasan singkat dibawah ini .
Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo merupakan anak ketiga dan putra pertama yang lahir pada tanggal 17 Oktober 1951.
Ayahnya bernama Soemitro Djojohadikusumo yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Ayah Prabowo merupakan seorang pakar ekonomi , sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Natsir pada April 1952 sekaligus politisi Partai Sosialis Indonesia yang saat itu baru saja selesai .
Sedangkan Ibunya bernama Dora Marie Sigar atau yang dikenal dengan nama Dora Soemitro. Beliau seorang berdarah Minahasa dari keluarga Maengkom di Langowan, Sulawesi Utara.
Baca juga : Kursi Capres Pemilu 2024 Telah Usai, Tersisa Perebutan Kursi Cawapres
Menengok analysis kekuatan nyapres parbowo yang di dukung oleh Pengusaha dan Invisible hand ( sebuah perselingkuhan politik /red)) alangkah indanya perlu melihat sejarah ” kelam” dan manis Prabowo .
Menarik untuk cermati bahwa Prabowo sebagai putra Begawan ekonomi Soemitro H punya andil dalm pembangunan di orde baru bersama Pak harto . Hubungan yang baik itulah yang akhirnya Soeharto ambil anak mantu Soemitro . Dan sebagai anak mantu inilah fase perubahan karir di Militer meroket .
Jejak Karir Militer Prabowo
Karir dimulai dari usia 26 tahun , Prabowo sudah menjadi komandan pleton termuda . Memimpin pasukan ke Timor Timur dalam operasi seroja . Dan pada tahun 1993 Prabowo kembali ke komando Pasukan khusus ( Kopassus ) .
Prabowo dipromosikan menjadi Komandan Grup 3/Sandi Yudha, salah satu Komando kontra-insurjensi Kopassus. Dan saatnya Prabowo menjabat sebagai wakil komandan komando di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Agum Gumelar dan Brigadir Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo.
Desember tahun 1995, Prabowo diangkat sebagai komandan Jenderal Kopassus dengan pangkat Mayor Jenderal. Salah satu tugas pertamanya adalah operasi pembebasan sandera Mapenduma. Tanggal 20 Maret 1998, Prabowo diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat dengan jabatan yang pernah disandang ayah mertuanya.
Sejak menjadi Pangkostrad inilah pergerakan dinas militer prabowo diuji oleh siatuasi politik . Sebagai perwira tinggi militer dalam era pergolakan reformasi 1998 , tercatat tinta emas yang akhirnya Dewan Kehormatan Perwira ( DKP ) memutuskan bahwa Prabowo bersalah . Dan diberhentikan secara hormat dalam kedinasan prajurit TNI .

Karier Politik kali ke Empat sebagai Capres
Karier politik sudah dirintis Prabowo S ketika menjadi anggota dewan Kehormatan Partai Golkar . Sehingga pada tahun 2008 atas sang adik Hasyim Djojohadikusuma mendesak untuk mendirikan partai politik . Partai ini sebagai manifestasi dari gerakan rakyat yang harus semangat menjadi motor penggerak bangsa dan negara , Partai Gerindra namanya .
Sebagai Komitmen Prabowo pada bangsa dan negara , Prabowo selalu ikut dalam partisipasi dalam kontestan pemilu . Baik sebagai Capres atau pernah menjadi juga mendampingi megawati sebagai Cawapres . Kegagalan sering di alaminya dengan sabar dan tetap semangat mencalonkan terus sebagai Capres . Terakhir capres 2019 bersama sandiaga Uno sebagai Cawapres melawan dengan Jokowi-Ma’ruf Amin . Dan peristiwa yang kali ketiga ini tetap membuahkan hasil , Prabowo diangkat sebagai Menteri pertahanan RI oleh Presiden Jokowi .

Dan Piplres 2024 ke depan , Prabowo tetap masih semangat mencalonkan diri sebagai Capres . Tentunya kali ke empat ini Prabowo S mendapat restu dari mantan rivalnya dulu . Namun situasi politik terkini bahwa ada cawapres yang notabene pengusung perubahan , Partai Koalisi Perubahan membuat istana ” gerah ” . Sehingga istilah cawe-cawe menjadi populer dikalangan politisi .
Dukungan kepada Anies Baswedan sangat kuat dari berbagai penjuru mata angin , sehingga perlu ada gerakan kontra yang menciptakan suara menjadi tidak terpusat . Hegemoni politik yang kuat mendominasi pemerintahan diatur agar terjadi dua calon capres . Namun seandainya tiga calon berarti ada peluang untuk notifikasi main mata diantara dua kandidat capres .
Tentunya ini menjadi menarik , mengakibatkan ongkos politik menjadi luar biasa besar. Apalagi yang menjadi yang korban pilpres adalah rakyat . Arah angin presiden tentunya akan berada di dua posisi , antara Ganjar dan Prabowo . Karena mereka berdua yang dijadikan calon dinasti penerus . Dan apakah benar majunya Prabowo Subianto sebagai capres menjadi pemecah suara untuk Ganjar ? , nanti kita cek kebenaranya di tahun 2024 .( Tim red )
