Jakarta, Intra62.com –
Untuk mengurangi kemungkinan hujan lebat di sekitar lokasi longsor Cisarua, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan operasi modifikasi cuaca.
Operasi modifikasi cuaca telah dimulai pada 24 Januari 2026 dan akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan, kata Teguh Rahayu, Kepala BMKG Bandung, di Bandung, Kamis.
BMKG bersama BNPB dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan modifikasi cuaca sejak 24 Januari dan terus melakukannya hingga hari ini. Dia mengatakan bahwa mereka telah berkeliling Gunung Burangrang tiga kali hari ini.
Ia menjelaskan bahwa sejak 24 Januari, penerbangan modifikasi cuaca telah dilakukan lebih dari sepuluh kali.
Karena wilayah Jawa Barat saat ini berada pada puncak musim hujan dengan potensi pertumbuhan awan hujan yang sangat tinggi, intensitas operasi modifikasi cuaca ditingkatkan, kata Teguh.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyatakan bahwa daerah tersebut mengalami hujan yang sangat intens sebelum longsor di Cisarua.
Teguh mengatakan, “Sehari sebelum kejadian, tercatat curah hujan ekstrem di atas 200 milimeter. Kejadiannya ekstrem pada tanggal 23.”
Ia mengatakan bahwa jumlah hujan yang turun dalam satu hari sama dengan jumlah hujan yang biasanya turun selama satu bulan.
Menurutnya, “Ibaratnya, intensitas curah hujan yang seharusnya tumpah sebulan itu tumpah dalam satu hari.”
BMKG menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menekan potensi hujan lebat yang dapat memperparah kondisi wilayah rawan bencana, khususnya di Kabupaten Bandung Barat.
Baca Juga : BMKG: Sepanjang Tahun 2025, 5.141 Gempa Terjadi Ditanah Papua.
Baca Juga : “Sabtu” BMKG Memperkirakan Sebagian besar Indonesia Mengalami Hujan Ringan.
(Red).
