• Sat. Jun 6th, 2026

Jejak Spiritual Panjang Jimat di Kasepuhan Cirebon

ByAF

Sep 9, 2025
Jejak Spiritual Panjang Jimat di Kasepuhan Cirebon

Cirebon , Intra62.com. –  Jejak Spiritual Panjang Jimat di Kasepuhan Cirebon.  Keraton Kasepuhan di Kota Cirebon, Jawa Barat, selalu memiliki cerita yang menarik, terutama saat menjelang bulan Maulid. Pada Jumat (5/9) malam, banyak orang berkumpul di halaman keraton yang biasanya kosong.

Upacara Panjang Jimat, yang telah berlangsung selama ratusan tahun, menarik perhatian banyak orang yang hadir.

Tradisi ini merupakan puncak peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini juga merupakan warisan Sunan Gunung Jati yang terus dipertahankan sembari meneguhkan nilai-nilai spiritualitas dan kebersamaan.

Setiap tahun, keraton Cirebon menjadi magnet bagi orang-orang yang ingin menghabiskan malam yang khidmat dan penuh doa.

Prosedur

Bangsal Panembahan adalah tempat prosesi dimulai. Para kiai, penghulu, dan orang-orang dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa berjalan beriringan. Mereka diikuti oleh abdi dalem yang berpakaian adat, mengenakan baju beskap hitam dan ikat kepala batik.

Pemimpin Keraton Kasepuhan menduduki singgasana di bangsal itu. Abdi penata upacara kemudian memberikan izin untuk menata nasi rosul pada tabsi Jimat Panjang.

Setiap detik terlihat sangat jelas karena setiap gerakan terlihat teratur dan tidak tergesa-gesa.

Tradisi ini terdiri dari 36 piring panjang dan 38 lilin pengiring. Setiap angka dan susunan memiliki makna. Ajaran Islam adalah sumber filosofi ini, yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Setiap perlambang menggambarkan kelahiran seseorang, terutama Nabi Muhammad SAW.

Semua barang yang dibawa dalam iring-iringan memiliki arti. Pangeran Patih Anom Raja Muhammad Nusantara, yang menjadi juru bicara keraton malam itu, berkata, “Itu menggambarkan kelahiran manusia sekaligus mengingatkan kelahiran Nabi Muhammad SAW.”

Setelah penataan selesai, dinding keraton tua bergetar oleh suara qori yang melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Suasana semakin tenang dan semua orang tertegun.

Penata upacara meminta izin untuk memulai iring-iringan Panjang Jimat, yang menandai puncak malam. Barisan mulai bergerak menuju Langgar Agung dari Bangsal Panembahan.

Rasa Syukur

Di barisan depan, lilin membawa cahaya yang menandai kelahiran Nabi pada malam hari. Perangkat upacara, seperti manggaran, nagan, dan jantungan, menyusul, menandai keagungan dan kebesaran.

Kelompok-kelompok yang membawa air mawar, pasatan, dan kembang goyang melanjutkan perjalanan mereka.

Benda-benda ini menunjukkan rasa syukur melalui sedekah dan proses kelahiran bayi sebelum ketuban. Ari-ari yang mengiringi kelahiran diwakili oleh kembang goyang.

Tumpeng jeneng, nasi uduk, dan nasi putih dibawa ke baris terakhir. Hidangan ini mewakili harapan bahwa bayi yang akan lahir akan memiliki nama baik dan menjadi orang yang bermanfaat di masa depan.

Lantunan sholawat tidak berhenti di sepanjang jalan menuju Langgar Agung, menciptakan irama ritmis yang menggetarkan hati hadirin.

Orang-orang berkumpul di sisi jalan, beberapa menengadah dan menunduk. Anak-anak kecil menyelip di antara kaki orang dewasa dan larut dalam suasana.

Langgar Agung menantikan. Nasi jimat kembali ditata setelah rombongan tiba. Tidak ada yang terlihat lelah meskipun malam semakin larut.

Segera setelah pembacaan Al-Barzanji dimulai, suasana menjadi lebih tenang. Seluruh keraton dihiasi dengan nuansa sakral saat memuji Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini tidak berakhir di sini. Keluarga besar keraton membuka kembali nasi jimat yang telah didoakan di ruang arum menjelang tengah malam. Hidangan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Sejumput nasi dianggap sebagai berkah bagi penduduk. Ada yang menyimpannya di rumah dan ada yang makan langsung bersama keluarga mereka. Kepercayaan ini sudah ada sejak lama.

Pesan Panjang Jimat

Panjang Jimat adalah salah satu dari sedikit tradisi di daerah yang bertahan ratusan tahun. Sejak didirikan pada tahun 1530, Keraton Kasepuhan telah menggelar upacara ini setiap tahun.

Pangeran Patih Anom menyatakan, “Filosofinya jelas, semuanya diambil dari ajaran Islam dan kehidupan manusia, serta meneladani kisah Nabi Muhammad SAW.”

Karena itu, Panjang Jimat selalu diantisipasi sebagai acara budaya dan peristiwa pemakaman sejarah panjang Cirebon.

Malam itu, keraton juga mengirimkan pesan kepada negara. Doa pun ditujukan untuk persatuan di tengah kondisi politik saat ini. Kedewasaan politik diperlukan untuk mengatasi situasi sulit yang sedang dihadapi saat ini.

Demokrasi seharusnya beroperasi dengan cara yang sehat dan terbuka, dan memungkinkan pertumbuhan kebersamaan daripada perpecahan.

Keraton menegaskan bahwa kesejahteraan merupakan hak yang harus dirasakan semua lapisan masyarakat, bukan hanya soal politik.

Keraton Kasepuhan mengingatkan bahwa kesetaraan adalah bagian penting dari kehidupan bernegara dan bahwa kebijakan yang menguntungkan rakyat kecil harus digunakan untuk mengatasi disparitas sosial.

Dalam doa yang dilantunkan, ada harapan bahwa bangsa Indonesia akan terus bergerak ke arah persaudaraan.
Kebersamaan dianggap penting untuk menangani tantangan, baik di dalam negeri maupun di dunia yang semakin kompleks.

Selain itu, Momentum Panjang Jimat ditempatkan sebagai pengingat bahwa perjalanan bangsa memerlukan landasan spiritual.

Baca juga : Balham Wadja SH. MH. Ketua Umum DPP AWDI, Hadiri Majelis Dzikir di DPD AWDI Cirebon Raya

(Anisa-red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/