Jakarta, Intra62.com –
Gerakan “Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga” (Satu Jam KU) diluncurkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) untuk menanggapi anak usia dini di bawah enam tahun yang terpapar penggunaan gawai selama enam jam setiap hari.
Menurut Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, 42,25 persen anak usia dini menggunakan telepon genggam dan internet; Generasi Z dan Alpha adalah pengguna internet terbanyak.
Anak-anak sekarang lebih terbiasa dengan dunia digital daripada interaksi sosial konvensional. Jumlah waktu yang dihabiskan untuk interaksi langsung dalam keluarga berkurang sebagai akibat dari perubahan ini. Woro menyatakan di Jakarta, Rabu, bahwa Gerakan Satu Jam KU mengutamakan orang tua sebagai pengasuh utama daripada gawai.
Selain itu, Gerakan Satu Jam KU juga bertujuan meningkatkan kualitas interaksi langsung dalam keluarga, serta memperkuat ikatan antara orang tua dan anak.
“Gerakan ini didasarkan pada pendekatan membangun keluarga berkualitas di era digital, dengan prinsip rumah sebagai zona aman dan nyaman untuk interaksi,” ujar dia.
Woro juga menunjukkan bahwa generasi Z dan Alpha menghadapi masalah saat menggunakan internet; kurang dari 30% anak didampingi orang tua saat menggunakan internet.
Selain itu, laporan konten kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia berada di peringkat ketiga di seluruh dunia.
Woro menyatakan bahwa meskipun internet memiliki manfaat seperti pendidikan, komunikasi, dan akses ke informasi, arus konten negatif menjadi risiko besar jika tidak disertai dengan pengasuhan aktif.
Ia menjelaskan bahwa Gerakan Satu Jam KU memungkinkan banyak hal, seperti beribadah bersama, makan bersama tanpa gawai, berolahraga, belajar, bersenang-senang, berbicara tentang budaya lokal, dan berkumpul untuk berbicara dengan santai.
Selain itu, Gerakan Satu Jam KU dilakukan selama Bulan Ramadhan, yang merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan hubungan keluarga karena anak-anak banyak melakukan pembelajaran di rumah.
Woro menyatakan, “Intinya, interaksi langsung tanpa distraksi gawai minimal satu jam setiap hari.”
Baca Juga : Revitalisasi Sekolah Berdasarkan Kearifan Lokal Dimungkinkan oleh Undang-Undang.
Baca Juga : Iuran Untuk Memperbaiki Sekolah yang Rusak diberikan oleh Mitra BGN di Sukabumi.
(Red).
