Jakarta, Intra62.com – Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, berpendapat bahwa, untuk menghadapi dinamika komoditas harga energi di seluruh dunia, karena situasi geopolitik saat ini, dunia industri harus memperbarui strategi mereka untuk produksi dan distribusi produk.
Saat dihubungi di Jakarta, Rabu, Faisal mengatakan bahwa secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi berdampak signifikan pada inflasi di tingkat produsen, biaya operasional, dan biaya produksi.
Faisal mengatakan, “Yang mana ini bisa berdampak terhadap peningkatan harga penjualan atau produk olahan, yang artinya ditransmisikan ke dalam harga di tingkat konsumen.”
Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), penting bagi industri untuk melihat bagaimana keterbatasan daya beli masyarakat.
Untuk menghindari penurunan permintaan, produsen telah menggunakan pendekatan downsizing atau mengecilkan ukuran dan kualitas. Namun, strategi downsizing tentu memiliki batasnya, karena pelanggan tidak siap menghadapi penyesuaian harga ritel. Menurut Bhima, harga bahan baku dan kemasan plastik terus meningkat.
Ia menyatakan bahwa, sebagai akibat dari kapal pengangkut yang menggunakan referensi minyak internasional, industri telah mengalami dampak yang signifikan dari biaya logistik impor.
Dia mengatakan, “Sektor makanan minuman adalah contoh bagaimana inflation impor diteruskan ke konsumen akhir.
Selain itu, Bhima memprediksi penyesuaian harga jual karena tekanan biaya produksi akan bertahan selama dua hingga tiga bulan ke depan, bahkan setelah eskalasi perang mulai mereda.
Untuk mengatasi dampak dari dinamika harga komoditas energi global saat ini, ia memberikan sejumlah rekomendasi bagi pemangku kepentingan, termasuk pemerintah.
Ada empat rekomendasinya. Menurut Bhima, pertama-tama, sebagai stimulus untuk konsumen dan bisnis, tarif PPN harus segera turun menjadi 9% dari 11%. Selanjutnya, untuk mencegah inflasi energi, perlu memastikan anggaran subsidi energi mencukupi. Untuk melakukan ini, anggaran harus dialokasikan dari program yang tidak begitu penting.
Ketiga, kata dia, “bantu realisasikan investasi di sektor industri baik yang dilakukan Danantara maupun swasta, serta menjaga stabilitas kurs agar tidak ada gejolak bahan baku impor berlebihan.”
Baca Juga : Pemerintah Menjaga Ekonomi Indonesia Tetap Berjalan di Tengah Dinamika Global.
Baca Juga : Purbaya Menyatakan Kenaikan Belanja K/L Sebagai Akibat dari Dampak Ekonomi yang Merata.
(Red).
