• Tue. Sep 8th, 2026

Dokter Sukamto: Meskipun Erupsi Telah Berhenti, Waspadai efek Abu Vulkanik

ByLia Uyee

Sep 8, 2026

Jakarta, Intra62.com – Dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), mengatakan bahwa kita harus tetap waspada terhadap abu vulkanik meskipun erupsi selesai.

Menurut Sukamto, selama abu tetap menumpuk di tanah, atap, dan jalan, angin, lalu lintas kendaraan, dan aktivitas pembersihan akan mengangkat kembali abu ke udara, menimbulkan risiko terutama bagi kesehatan.

Karena partikel abu vulkanik yang tajam, bersudut, mengandung silika, dan sebagian sangat halus (PM10 dan PM2.5), Sukamto menjelaskan bahwa abu vulkanik bukan debu biasa dan dapat terhirup sampai ke alveolus dan saluran napas bawah.

Dia menceritakan, “Gangguan pada saluran napas yang paling sering berupa iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk kering, sesak, serta dada terasa berat.”

Sukamto menyatakan bahwa penderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), seperti asma, bronkitis kronik, dan rinitis alergi, harus memperhatikan paparan abu vulkanik karena dapat menyebabkan serangan atau eksaserbasi jika dihirup.

Dosen tetap di Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen IPD Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu menyatakan, “Karena itu, status vaksinasi influenza dan pneumokokus sebaiknya diperbarui bagi pasien penyakit paru kronik dan lansia. Ini bagian dari perlindungan yang sering terlupakan.”

Menurut Sukamto, efek abu vulkanik pada kesehatan tidak hanya menyerang sistem pernapasan; itu juga menyebabkan masalah pada mata seperti iritasi, mata merah, konjungtivitis, bahkan lecet kornea karena partikel abu yang tajam.

Abu dapat mencemari makanan dan air minum yang tidak terlindungi, mengganggu saluran pencernaan, menyebabkan iritasi, gatal, dan dermatitis pada kulit, terutama jika abu asam atau bercampur keringat.

Dokter Pendidik Klinik Utama Divisi Endokrinologi, Imunologi, dan Infeksi Departemen Penyakit RSCM itu mengatakan, “Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak yang memberat atau mengi yang tidak mereda dengan inhaler, nyeri dada, demam dengan batuk berdahak yang menetap, atau nyeri mata dan penglihatan kabur.”

Menurut informasi yang diposting di akun media sosial resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB telah menyebar ke daerah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Baca Juga : Erupsi Gunung Anak Krakatau Telah Berakhir

( Red )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/