Jakarta, Intra62.com -Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan tingginya biaya produksi beras di dalam negeri, yang saat ini mencapai Rp12.000 hingga Rp14.000 per kilogram dan angka tersebut jauh melampaui biaya produksi di kisaran Rp4.000/kg di negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
Saat berbicara di pembukaan pameran pertanian Agrinex di Jakarta, Jumat, Zulkifli menyatakan bahwa ketimpangan biaya produksi merupakan masalah besar bagi produktivitas dan tingkat kesejahteraan petani di daerah tersebut.
Kondisi tersebut berdampak pada tingginya ketergantungan Indonesia pada pasokan internasional, yang diproyeksikan akan mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras dari Indonesia pada tahun 2024.
Faktor utama penyebab indeks pertanaman yang rendah adalah pengelolaan irigasi yang buruk dan akses ke sarana produksi. Dari 7,4 juta hektare sawah nasional, luas tanam hanya 10 juta hektare, karena sebagian besar lahan hanya ditanam sekali setahun.
Selain masalah irigasi, kompleksitas proses penebusan pupuk bersubsidi bagi petani menyebabkan ketidakefisienan, meskipun rasio penggunaan pupuk sangat penting untuk hasil panen.
Pemerintah melakukan reformasi regulasi secara menyeluruh dari hulu ke hilir untuk mengatasi hambatan tersebut sekaligus mengurangi biaya produksi untuk mencapai swasembada pangan.
Pemerintah juga merevisi peraturan harga gabah petani menjadi Rp6.500 per kilogram tanpa persyaratan kadar air, selain meningkatkan aturan pupuk dan membenahi tata kelola irigasi daerah.
