• Sun. Jun 21st, 2026

Krisis pasokan minyak dunia walau Selat Hormuz Dibuka

ByAF

Jun 21, 2026
Krisis pasokan minyak dunia walau Selat Hormuz Dibuka

Jakarta,Intra62.com.  Krisis pasokan minyak dunia walau Selat Hormuz Dibuka. Kekhawatiran di pasar energi global masih ada setelah kesepakatan yang dicapai pekan ini. Yaitu antara Iran dan Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sejumlah analis berpendapat bahwa, meskipun harga minyak telah turun tajam, kemungkinan kenaikan harga tetap tinggi karena cadangan minyak dunia menipis.

Meskipun normalisasi pasokan membutuhkan waktu yang lama, pasar seolah-olah menganggap krisis telah berakhir, kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets.

“Semua orang berpikir masalah ini sudah selesai. Padahal masih ada tantangan logistik besar untuk kembali ke kondisi semula,” katanya seperti dilansir dari CNN, Minggu (21/6/2026).

Dia menuturkan, pembukaan Selat Hormuz hanya menjadi langkah awal. Jalur pelayaran masih perlu dibersihkan, kapal tanker harus kembali beroperasi, dan produksi minyak perlu ditingkatkan sebelum pasokan dapat kembali normal. Proses tersebut diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

“Pasar sudah melompat tujuh langkah lebih jauh dari kondisi yang sebenarnya,” ujarnya.

Selama hampir empat bulan konflik berlangsung, pasokan minyak dari Timur Tengah terganggu dan menyebabkan hilangnya sekitar 1,15 miliar barel minyak dari pasar global, menurut data Kpler.

Kondisi tersebut menggerus cadangan minyak dunia. Stok minyak global dilaporkan telah menyusut sekitar 190 juta barel dalam beberapa bulan terakhir. Sementara cadangan strategis negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) berada pada level terendah sejak 1990.

Harga minyak Brent yang sempat menyentuh US$ 126,41 per barel saat konflik memuncak kini turun ke bawah US$ 80 per barel. Yaitu setelah tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS. Namun, sejumlah pelaku pasar menilai penurunan harga tersebut terlalu cepat dibanding kondisi fundamental yang masih rapuh.

Analis Kpler, Matt Smith, juga memperkirakan harga energi masih berpotensi naik dalam beberapa bulan mendatang karena pasar tetap bergantung pada cadangan yang terus menyusut.

Meskipun cadangan minyak telah menyusut

Secara matematis, dunia masih membutuhkan sekitar satu tahun untuk menggantikan 1,15 miliar barel pasokan yang hilang selama konflik. Bahkan jika produksi global meningkat hampir 5 juta barel per hari di atas kebutuhan pasar seperti yang diproyeksikan IEA.

Menurutnya, kekuatan pasar akan kembali berlaku pada akhirnya, meskipun itu belum terlihat saat ini karena optimisme pasar terhadap kesepakatan yang tercapai.

Vikas Dwivedi, analis dari Macquarie Group, mengatakan meskipun cadangan minyak telah menyusut, pasar masih memiliki pasokan yang cukup. Sebagai contoh, stok bensin di Amerika Serikat hanya turun sekitar 5% dari tahun sebelumnya. Sementara stok solar turun 12,4% dari rata-rata lima tahun terakhir.

Dia berkata, “Kami memiliki bantalan yang besar, dan sekarang bantalan itu sudah banyak terpakai.”

Baca juga : Iran usulkan 14 poin perdamaian untuk mengakhiri perang dengan AS.

( Anisa-red )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/