Jakarta, Intra62.com –
Teknologi bantalan rel berbasis karet komposit dipelajari oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan transportasi umum kereta api.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyatakan hal itu sebagai tanggapan atas kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek yang menabrak kereta rel listrik (KRL) di Bekasi Timur pada Senin (27/4).
Dia menyatakan bahwa BRIN telah membantu dalam desain dan penelitian sistem kereta api, termasuk kereta LRT dan kereta di jalur Makassar-Parepare di Sulawesi Selatan. Selain itu, penelitian telah dilakukan pada material seperti bantalan rel berbasis karet komposit untuk meningkatkan keselamatan dan umur pakai infrastruktur kereta api.
Amarulla menyatakan bahwa BRIN juga mengembangkan sistem keamanan lintasan kereta api, yang mencakup metode untuk mengintegrasikan sistem perlindungan dengan masinis secara otomatis.
Selain itu, BRIN mengkaji dampak medan magnet lokomotif terhadap kendaraan lain di sekitar lintasan. Ini karena metode netralisasi diperlukan untuk menghindari mengganggu kendaraan lain karena medan magnet yang besar berasal dari sistem kelistrikan lokomotif.
Menurut Amarulla, “Kemudian, tidak hanya terkait teknologi atau sistem perkeretaapian, tetapi apakah betul mobil listrik terpengaruh oleh medan magnet yang besar di kereta api, itu juga merupakan salah satu kajian dari BRIN karena pengaruh medan magnet ketika kereta api lewat.”
Ia mengatakan bahwa untuk memastikan bahwa medan magnet di sekitar lintasan rel kereta api tidak mempengaruhi kendaraan yang lewat di sekitarnya, penelitian harus dilakukan tentang masalah ini.
Menurutnya, “Jadi, medan magnet yang besar itu dihasilkan oleh kereta api yang akan lewat. Karena sumber listrik lokomotif sangat besar, magnetnya terhantar ke kereta api di depannya. Mungkin perlu kita kaji atau riset bagaimana untuk netralisasi medan magnet di sekitar lintasan kereta api supaya tidak mengganggu lalu lintas mobil yang akan lewat.”
Hingga pukul 08.45 WIB, kecelakaan kereta listrik dan kereta api di sekitar Stasiun Bekasi Timur menewaskan 14 orang dan melukai 84 orang.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) bertanggung jawab atas seluruh biaya pengobatan dan pemakaman korban luka.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjamin bahwa pihak asuransi dan KAI akan menanggung semua biaya pengobatan korban luka dan pemakaman korban meninggal dunia.
Saat ini, para korban luka telah dievakuasi ke beberapa tempat kesehatan, seperti RSUD Bekasi dan RS Polri Kramat Jati, untuk diidentifikasi, serta beberapa rumah sakit swasta di daerah Bekasi.
Untuk menyediakan layanan darurat, KAI juga membuka Posko Tanggap Darurat dan Posko Informasi di Stasiun Bekasi Timur. Posko-posko ini membantu keluarga korban mendapatkan informasi akurat tentang kondisi penumpang dan bagaimana menangani barang-barang pelanggan.
Baca Juga : BRIN: Waspadai Kemungkinan Wabah Pes Kembali di Indonesia.
Baca Juga : BRIN Meminta Pemerintah Memantau Kesehatan Pohon di Jalan Selama Musim Hujan.
(Red).
