Jakarta, Intra62.com – Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, nilai tukar rupiah menguat bergerak naik 12 poin, atau 0,07 persen, menjadi Rp16.676 per dolar AS. Ini adalah peningkatan dari sebelumnya Rp16.688.
Menurut Taufan Dimas Hareva dari Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), keputusan moneter yang ekspansif Federal Reserve memengaruhi penguatan nilai tukar rupiah.
Baca Juga : Surplus Neraca Transaksi Berjalan Indonesia Mendorong Penguatan Rupiah.
Menurutnya, setelah keputusan Fed yang dovish, sentimen pasar mulai mengurangi tekanan terhadap dolar AS.
Menurut Anadolu, Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rata-rata 3,5-3,75 persen.
Setelah mempertahankan suku bunga tak berubah selama lima pertemuan sebelumnya sebelum memangkasnya pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di September, ini menandai pemangkasan suku bunga ketiga dan terakhir Federal Reserve pada tahun 2025.
Secara umum, Taufan menyatakan bahwa pelemahan dolar AS mendukung mata uang pasar baru, termasuk rupiah.
Tetapi tekanan dari kemungkinan pemangkasan BI-Rate yang sudah diantisipasi pasar mungkin menghalangi penguatan yang lebih besar.
Para ekonom memperkirakan bahwa rupiah masih berpotensi melemah tipis dibandingkan posisi saat ini dalam jangka menengah, kata Taufan.
Namun, karena faktor fundamental domestik yang relatif stabil dan cadangan devisa yang kuat, pelemahan ini diperkirakan tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.
Dia mengatakan, “Rata-rata rupiah pada tahun 2025 diperkirakan di sekitar Rp16.600-Rp16.800 per dolar AS, dengan tekanan depresiasi yang lebih moderat jika dolar global terus melemah.”
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini juga rupiah menguat dari sebelumnya Rp16.688 per dolar AS.
Baca Juga : Di Polres Jakarta Barat, Ratusan Anggota Ormas Menghadiri Apel Jaga Jakarta.
(Red).
