• Sun. Apr 19th, 2026

Sejarah Tentang Lomba Panjat Pinang

ByIM

Aug 24, 2023
Sejarah Tentang Lomba Panjat

Jakarta, Intra62.com – Mengenal sejarah tentang lomba panjat pinang. Lomba panjat pinang kerap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan HUT Republik Indonesia. Pohon pinang atau bambu setinggi dua meter diletakkan di tengah halaman, di atasnya terdapat sederet hadiah menarik menanti.

Tim pendakian telah menerapkan strategi kompak untuk mencapai puncak. Bertelanjang dada, tim pendakian menggunakan kekuatan tubuh mereka untuk saling menopang.

Di sejumlah daerah mengaplikasikan pohon pinang dengan cara mengoleskan minyak atau cairan oli pada batang bambu. Namun, tahukah Anda apa yang melatarbelakangi keseruan lomba pendakian tersebut?

Sejarah dan fakta menarik terkait lomba panjat pinang, simak fakta menarik di baliknya:

Baca Juga :Sejarah Pramuka diperingati pada Agustus

Sejak zaman kolonial

Asal mula pohon pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda. Kala itu, orang Belanda menggunakan pinang sebagai hiburan pada saat perayaan penting seperti pernikahan, ulang tahun orang penting dan perayaan penting lainnya.

Cara bermainannya sama seperti sekarang, pinang dilumuri oli atau diberi minyak agar sulit dipanjat, kemudian sekelompok orang harus memanjat untuk mendapatkan hadiah di puncak pinang. Di atas sudah digantung dengan harga menarik, berbeda dengan saat ini. Pada masa dahulu pemberian tersebut berupa sembako seperti beras, tepung, pakaian, dan lain-lain.

Para peserta lomba berusaha keras untuk mendapatkan kebutuhan pokok tersebut, karena pada saat itu harga kebutuhan pokok sangat mahal.

Perayaan Ratu Belanda

Meskipun panjat pohon pinang kini dilakukan untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia, namun pada masa kolonial, panjat pohon pinang menjadi hiburan untuk memperingati ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina.

Wilhelmina merupakan pewaris mahkota Kerajaan Belanda. Menariknya, jika saat ini Panjat Pinang dilakukan pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, zaman dahulu Panjat Pinang dilakukan pada tanggal 31 Agustus setiap tahunnya, pada saat ulang tahun Ratu.

Hari ulang tahun Ratu merupakan acara besar yang dirayakan oleh keluarga, koleganya, keluarga kerajaan, dan koloni Belanda di belahan dunia lain.

Oleh karena itu, pesta ulang tahun selalu dimeriahkan dengan hiburan pendakian (panjat pinang) yang masih menjadi tradisi kompetisi di Indonesia hingga saat ini.

Simbol Penindasan

Di masa penjajahan, peserta lomba panjat pinang adalah rakyat Indonesia, dan bangsa Belanda hanya sebagai penonton.

Bangsa Indonesia rela bersusah payah saling menginjak-injak demi merebut hadiah berupa sembako yang pada saat itu nilainya sangat besar, karena pada saat itu bangsa Indonesia masih sangat miskin.

Selama ini orang Belanda hanya menonton acara-acara yang mereka anggap menarik, dan mereka sangat menikmati pertunjukan tersebut. Menurut mereka, itu adalah hiburan. Mereka tertawa melihat orang-orang Indonesia memanjat pohon pinang sampai mereka terjatuh, terinjak-injak dan kesulitan.

Meski sejarah lomba pendakian memiliki sisi menyedihkan, namun tetap ada hal positif yang bisa dipetik darinya. Lomba panjat pinang juga merupakan simbol perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pejuang kemerdekaan berusaha semaksimal mungkin meski terjatuh berulang kali, diinjak-injak, dan bahkan diri mereka dalam bahaya.

Semuanya gigih mencapai puncak kemerdekaan. Kegigihan dan semangat inilah yang patut kita teladani, layaknya para pejuang kemerdekaan kala itu. (red/intra62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/