• Fri. Jun 5th, 2026

Risiko pasokan di tengah konflik Asia Barat memengaruhi pelemahan rupiah.

ByBunga Lestari

Mar 4, 2026

Jakarta, Intra62.com –

Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Rabu, nilai tukar rupiah bergerak melemah 20 poin, atau 0,12 persen, menjadi Rp16.892 per dolar AS. Ini adalah penurunan dari penutupan sebelumnya, yang tercatat pada Rp16.872 per dolar AS.

Menurut Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang, sikap pelaku pasar terhadap risiko pasokan di tengah konflik Asia Barat menyebabkan pelemahan ini.

Situasi menjadi lebih buruk pada hari Selasa (3/3) ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran. Di Jakarta, Rabu, dia menyatakan bahwa Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.

Selain itu, otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.

Sebagian besar orang percaya bahwa harga minyak telah dipengaruhi oleh risiko geopolitik yang signifikan karena ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.

“Irak telah mulai menghentikan produksi di West Qurna 2, ladang terbesar di negara itu, dan di Rumaila, ladang terbesar di negara itu, dengan 1,2 juta barel per hari,” kata Ibrahim.

Fitch Ratings, lembaga pemeringkat internasional, mengubah prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif sebagai tanggapan atas sentimen di dalam negeri.

Peringkat kredit penerbit mata uang asing jangka panjang (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap berada di level BBB, meskipun demikian.

Dia menyatakan bahwa revisi outlook mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi pengambilan keputusan. Kondisi ini dianggap dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal.

Sebaliknya, Indonesia dianggap memiliki rekam jejak yang cukup baik untuk menjaga stabilitas makroekonomi, yang membuat Fitch mempertahankan peringkat BBB.

Itu didukung oleh prospek pertumbuhan jangka menengah, rasio utang pemerintah yang moderat terhadap PDB, dan cadangan eksternal yang cukup.

Fitch memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan lebih besar dari target pemerintah sebesar 2,7 persen PDB.

Asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif dan peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), memengaruhi proyeksi tersebut.

Sementara itu, untuk menjaga rupiah, Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan pengawasan ketat terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi di seluruh dunia.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/