Jakarta, Intra62.com – Dr. Ian Suryadi Suteja, seorang spesialis anak, M.Med Sc, Sp.A, menjelaskan bagaimana perubahan musim dari kemarau ke hujan atau pancaroba berdampak pada penurunan daya tahan tubuh.
Dia menyatakan bahwa perubahan cuaca yang ekstrem selama musim pancaroba membuat anak-anak hingga dewasa rentan terhadap penyakit.
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu mengatakan bahwa selama musim pancaroba, cuaca dan suhu mengalami perubahan yang sangat drastis.
Ian mengatakan bahwa kondisi ini membuat tubuh beradaptasi dengan berbagai perubahan metabolisme, yang dapat menyebabkan stres.
Dia menjelaskan, “Karena stres, tubuh kita tidak mampu menghasilkan antibodi yang cukup. Karena harusnya menghasilkan antibodi yang cukup, tapi tubuh kita berubah menjadi tidak terlalu fokus, menghasilkan penurunan daya tahan tubuh lagi, jadi berkurang.”
Baca Juga : BMKG: Waspadai Bencana Hidrometeorologi, Prediksi Musim Kemarau Basah Hingga Oktober 2025
Dokter dari Tzu Chi Hospital mengatakan virus lebih cepat menyebar selama musim pancaroba karena perubahan tekanan udara yang lebih tinggi atau terlalu ekstrem.
Dia mengatakan bahwa virus dan bakteri biasanya mengendap di dekat permukaan tanah, membuat manusia lebih mudah menghirupnya.
Selain itu, dokter Ian mengatakan bahwa selama musim pancaroba, sangat penting untuk mempertahankan daya tahan tubuh dengan menerapkan gaya hidup bersih, seperti memakai masker, rajin cuci tangan, dan makan makanan yang sehat.
Dia menjelaskan, “Makan vitamin, vitamin C, vitamin D, dan Zinc juga meningkatkan daya tahan tubuh, ke mana-mana boleh pakai masker, kalau batuk atau pilek sudah ganggu banget, kalau bisa cuti jangan sekolah atau kerja dulu.”
(Red).
