• Thu. May 7th, 2026

Laporan: Ketidakstabilan Siklus Air Menjadi Penyebab Bencana Iklim Global Pada Tahun 2025.

ByBunga Lestari

Jan 14, 2026

Jakarta, Intra62.com – Menurut satu laporan baru yang dirilis pada Rabu (14/1), siklus air global sedang mengalami pergeseran, yang akan memperburuk banjir, kekeringan, dan panas ekstrem pada tahun 2025, menyebabkan ribuan kematian dan kerugian ratusan miliar dolar.

Sebuah laporan Global Water Monitor 2025 yang dipimpin oleh Universitas Nasional Australia (ANU) menunjukkan bahwa pemanasan global mengubah cara air disimpan, bergerak, dan bersirkulasi di antara atmosfer, daratan, dan lautan, dengan konsekuensi yang signifikan bagi masyarakat dan ekosistem.

Menurut laporan itu, bencana air akan menyebabkan hampir 5.000 kematian dan sekitar 8 juta orang mengungsi pada tahun 2025, dengan kerugian ekonomi yang melampaui 360 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp16.875).

Laporan tersebut menyatakan bahwa kerugian tersebut berasal dari banjir, siklon tropis, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang saling berhubungan dan berdampak pada sistem air, pangan, dan energi.

Profesor Albert van Dijk dari Fakultas Lingkungan dan Masyarakat Fenner di Universitas Nasional Australia mengatakan, “Perubahan pada siklus air memengaruhi waktu dan lokasi bencana.”

Dia juga mengatakan bahwa perubahan cepat antara ekstrem basah dan kering, yang disebut sebagai “whiplash iklim”, membebani sistem air, ekosistem, dan infrastruktur, sehingga dampak keseluruhan dari peristiwa iklim menjadi lebih buruk.

Menurut laporan itu, banjir danau glasial di Himalaya hingga siklon ekuator, bersama dengan tingkat panas yang memecahkan rekor, akan menjadi bencana pada tahun 2025.

Sementara Eropa mengalami kematian akibat panas dan kebakaran hutan, Asia Selatan dan Tenggara mengalami banjir monsun yang parah.

Para peneliti memperingatkan bahwa pada tahun 2026 akan ada peningkatan risiko kekeringan di berbagai wilayah termasuk Mediterania, Tanduk Afrika, Brasil, dan Asia Tengah.

Selain itu, ada kemungkinan banjir yang lebih besar di Sahel, Afrika Selatan, Australia Utara, dan sebagian besar Asia.

Baca Juga : Amerika Serikat Mempertimbangkan Berbagai Strategi Menekan Iran, Termasuk Serangan Udara.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/