Jakarta, Intra62.com – Seruan boikot terhadap Raffi Ahmad RANS Carnival di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menunjukkan bagaimana pendapat publik di media sosial dapat memengaruhi keputusan musisi dan bisnis untuk berpartisipasi dalam kegiatan tertentu.
Fajar Junaedi, pengamat media dan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mengatakan bahwa konsep cancel culture atau pembatalan dapat digunakan untuk mempelajari fenomena tersebut.
RANS Carnival akan berlangsung di area parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman, dari tanggal 31 Oktober hingga 1 November 2026. Sebelum pelaksanaan, beberapa musisi, termasuk Tipe-X, Guyon Waton, Masdddho, dan OM Wawes, mengumumkan pengunduran diri mereka dengan berbagai alasan, termasuk masalah keamanan dan kenyamanan publik.
Setelah kehadiran Raffi Ahmad dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta, Kamis (29/10/2026), yang menuai kritik, gerakan boikot meningkat. Polda Metro Jaya meminta maaf atas kontroversi dan mengklarifikasi bahwa Raffi hadir sebagai tamu undangan penyelenggara.
Fajar menjelaskan bahwa tekanan opini publik dapat memengaruhi cara seseorang atau kelompok menyuarakan pendapat, mendukung, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
Ia mengacu pada penelitian yang ditulis oleh Pippa Norris, “Cancel Culture: Myth or Reality?” yang diterbitkan dalam edisi 2023 dari jurnal Political Studies. Studi ini menyelidiki hubungan antara persepsi tentang pembungkaman pendapat dan kesesuaian nilai seseorang dengan budaya dominan kelompok.
Selain itu, Fajar mengaitkan fenomena ini dengan teori spiral keheningan, juga dikenal sebagai spiral keheningan, yang diusulkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann.
Menurut teori ini, ketika seseorang merasa pendapatnya berbeda dari pendapat yang dianggap dominan, mereka cenderung menahan pendapat mereka. Situasi seperti ini dapat menyebabkan suara mayoritas menjadi semakin kuat, sementara kelompok yang berbeda cenderung tidak berbicara.
Fajar menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa pendapatnya berbeda dari suara mayoritas, mereka cenderung diam karena khawatir menghadapi tekanan sosial. Akibatnya, suara mayoritas semakin terlihat dominan, sementara kelompok yang berbeda semakin sulit menyampaikan pandangannya.
Penelitian Norris menggunakan survei terhadap hampir 2.500 akademisi ilmu politik di lebih dari 100 negara. Hasilnya berkaitan dengan persepsi akademisi tentang lingkungan kebebasan berpendapat, bukan penelitian langsung tentang boikot acara hiburan.
Fajar menggunakan ide ini sebagai kerangka untuk melihat dinamika pendapat publik dan keputusan dari berbagai pihak yang terlibat dalam RANS Carnival.
Dia berpendapat bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunitas tertentu dapat dipengaruhi oleh opini yang menguat dalam percakapan publik.
Fajar menganalisis dinamika penolakan terhadap RANS Carnival di Yogyakarta dengan mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat setelah berbagai demonstrasi mahasiswa. Disebutkan bahwa penilaian figur publik dipengaruhi oleh masalah seperti kekuasaan, solidaritas, dan aspirasi masyarakat.
Ketika seorang individu atau kelompok dianggap tidak sejalan dengan prinsip-prinsip yang menguat di suatu masyarakat, mereka dapat dianggap sebagai pihak yang dianggap berbeda dari kebiasaan masyarakat.
Fajar menjelaskan bahwa konsep ikan keluar dari air dalam kajian Norris dapat membantu memahami kondisi seperti ini. Ini adalah situasi di mana seseorang merasa tidak berada dalam lingkungan nilai yang sesuai dengan dirinya.
Ia juga mengatakan bahwa tekanan sosial tidak hanya muncul melalui seruan dan komentar di media sosial; hubungan antarkomunitas juga dapat memengaruhi keputusan individu dan kelompok.
Meskipun demikian, setiap musisi harus memahami alasan mengapa mereka menolak RANS Carnival.
Misalnya, manajemen Guyon Waton mengatakan bahwa keputusan dibuat berdasarkan faktor-faktor seperti keamanan, kondusivitas, dan kenyamanan masyarakat, serta hubungan baik antara semua pihak.
Musisi dan pengusaha Fajar mempertimbangkan hubungan mereka dengan komunitas. Oleh karena itu, saat mereka memilih untuk terlibat dalam suatu kegiatan, mereka mempertimbangkan pertimbangan sosial dan reputasi mereka selain keuntungan bisnis.
Masyarakat mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memutuskan untuk meninggalkan RANS Carnival di tengah seruan boikot.
Sebagian besar warganet membantu menyebarkan informasi tentang penjual dan membeli barang yang telah disiapkan.
Salah satu cara untuk menunjukkan dukungan terhadap pelaku usaha yang terkena dampak kontroversi acara adalah dengan memberikan dukungan ini.
Fajar berpendapat bahwa tanggapan itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap orang lain yang terkena dampaknya dapat disertakan dengan penolakan terhadap suatu kegiatan.
Masyarakat tidak hanya dapat menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap individu atau tindakan tertentu, tetapi mereka juga dapat membantu bisnis lokal menghadapi akibat ekonomi yang terkait.
Fajar menilai kasus RANS Carnival menunjukkan hubungan antara pilihan individu dan kelompok dan norma masyarakat. Namun, pendapat yang populer di media sosial tidak serta-merta mewakili semua orang di Yogyakarta.
Baca Juga : MA Menjelaskan Keputusan Mengenai Suket Penyetaraan Ijazah Gibran
( Red )
