Jakarta, Intra62.com – Dalam penyelidikan dugaan tindak pidana korupsi terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh yang dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang menyelidiki jumlah tanah negara yang dijual kembali ke negara.
Seperti yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, “Kami terus mempelajari informasi yang kami peroleh baik dari lapangan maupun dari permintaan keterangan kepada para pihak.”
Selain itu, Budi menyatakan bahwa dugaan penggelembungan anggaran terkait pengadaan lahan tersebut saat ini diselidiki oleh KPK.
“Ini masih dalam penyelidikan,” katanya.
Sebelum ini, Mahfud MD, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, mengungkapkan dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Mahfud MD Official, pada 14 Oktober 2025, bahwa ada dugaan tindak pidana korupsi terkait penggelembungan anggaran atau mark-up di proyek Whoosh.
Dia menyatakan bahwa biaya kereta Whoosh per kilometer adalah 52 juta dolar AS, menurut perhitungan yang dilakukan oleh orang Indonesia. Namun, di China sendiri, harganya naik tiga kali lipat menjadi 17 hingga 18 juta dolar AS.
“Siapa yang menaikkan?” tanya dia. Ke mana uang itu pergi? peningkatan tiga kali lipat. Di Indonesia, harga per kilometer meningkat menjadi 52 juta dolar AS (dalam dolar Amerika, bukan rupiah). Itu adalah pengukuran. Harus ditentukan siapa yang memulai ini.
Pada 16 Oktober 2025, KPK meminta MD Mahfud untuk melaporkan dugaan korupsi proyek Whoosh.
Selanjutnya, MD Mahfud dan KPK menanggapi masalah tanah negara. Pada 26 Oktober 2025, Mahfud menyatakan bahwa dia siap memberikan keterangan kepada KPK tentang dugaan korupsi Whoosh.
Sementara itu, pada 27 Oktober 2025, Komisi Korupsi mengumumkan bahwa dugaan korupsi Whoosh telah naik ke tahap penyelidikan sejak awal tahun 2025.
Baca Juga : KPK mulai memanggil saksi dalam kasus pemerasan di Provinsi Riau.
Baca Juga : KPK Memeriksa Sekda dan Kabag Protokol Riau Terkait OTT Gubernur
(Red).
