Jakarta, Intra62.com – Alwi Shihab, mantan Menteri Luar Negeri, mendukung keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) karena dianggap memiliki kepentingan strategis bagi posisi Republik Indonesia di forum internasional.
Di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, Alwi menyatakan, “Mendukung lah, masa enggak mendukung.”
Alwi percaya bahwa meskipun ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan, partisipasi Indonesia dalam BoP memiliki keuntungan.
Mungkin ada keuntungan untuk bergabung, tetapi ada reservasi. Oleh karena itu, apa yang perlu diperhatikan? Menlu Abdurrahman Wahid, yang merupakan Presiden keempat Republik Indonesia, mengatakan, “Kita sudah masuk masa kita bilang keluar kan enggak mungkin.”
Alwi menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki pandangan dan alasan tersendiri untuk memutuskan bahwa Indonesia harus berpartisipasi dalam BoP, dan alasan tersebut dianggap sah.
Akibatnya, Alwi menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut dan menganggap keanggotaan Indonesia dalam BoP sangat penting.
Alwi berpendapat bahwa Indonesia harus berpartisipasi dalam forum tersebut karena Palestina tidak terlibat dalam BoP.
Menurutnya, dengan menjadi anggota, Indonesia memiliki ruang untuk menyampaikan pendapatnya dan memperjuangkan kepentingan Palestina sehingga tidak terfokus pada satu pihak.
Dia menilai bahwa posisi Indonesia di forum memungkinkan mereka untuk menyuarakan koreksi dan masukan dibandingkan dengan berada di luar forum.
Kita tidak bisa berbicara jika kita tidak ikut, tetapi jika kita di dalam, kita bisa mengatakan, “Jangan gitu dong, ini kan kita mau memperjuangkan Palestina, jangan hanya Israel yang diperhatikan.” Itu kira-kira yang ingin saya sampaikan, katanya.
Sebagaimana diketahui, pada hari Rabu, Presiden Prabowo mengadakan pertemuan di Istana Kepresidenan di Jakarta dengan mantan dan mantan Menteri Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri untuk membahas masalah geopolitik terbaru.
Alwi menganggap langkah Kepala Negara untuk mengumpulkan mantan dan wakil menteri luar negeri sebagai hal yang baik.
Menurutnya, pertemuan ini adalah yang pertama dan menunjukkan sikap Presiden yang bijaksana dan terbuka untuk mendengarkan pendapat para pendahulunya.
Bekas Menlu berkata, “Saya kira ini sangat positif, mungkin ini pertama kalinya.” Dia menyimpulkan, “Beliau ini bijaksana.”
(Red).
