Jakarta, Intra62.com – Menurut Daryono, anggota Akademisi Ahli dari Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), aktivitas gempa bumi di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tidak dapat dianggap sebagai indikasi pasti bahwa akan terjadi gempa bumi berkekuatan besar.
Di Bandung, Kamis, dia mengatakan bahwa swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap.
Sebagai informasi yang dikumpulkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah terjadi puluhan gempa di wilayah Pangalengan dan sekitarnya sejak Rabu (16/9), beberapa di antaranya dirasakan oleh masyarakat umum.
Salah satu gempa magnitudo 2,6 terjadi pada pukul 04.59 WIB di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman tiga kilometer. Aktivitas ini berlanjut hingga Kamis pagi.
Menurut Daryono, gelombang gempa adalah rangkaian yang terjadi berulang dalam suatu wilayah dan waktu tertentu tanpa satu gempa utama (mainshock) yang jelas mendominasi gelombang.
Dia menyatakan bahwa kemunculan swarm menunjukkan adanya aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi. Namun, fenomena ini dapat dikaitkan dengan pergeseran sesar atau aktivitas vulkanik atau hidrotermal.
Pangalengan terletak di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang memiliki kondisi deformasi kerak bumi yang kompleks, dan berdekatan dengan sistem Sesar Garsela (Garut Selatan), salah satu struktur sesar aktif di Jawa Barat yang mengalami aktivitas seismik.
Ia mengingatkan masyarakat di sekitar Pangalengan untuk terus mengikuti informasi resmi dan perkembangan aktivitas gempa dari BMKG karena kesiapsiagaan harus mencakup potensi bahaya sekunder seperti longsor.
Baca Juga :Dugaan Jual Beli Jabatan Di Kementerian ATR/BPN Diungkapkan oleh KPK
( Red )
