Jakarta, Intr62.com – Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) memperkirakan bahwa karena fundamental ekonomi Indonesia yang tetap stabil, rupiah akan terus menguat.
“Pada kuartal II 2026, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 5,10 persen, meskipun sedikit lebih rendah dari pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 5,61 persen.”
Data tersebut dipertimbangkan untuk menunjukkan ketahanan ekonomi domestik yang kuat di tengah ketidakpastian global.
Pelaku pasar juga menantikan rilis cadangan devisa Indonesia (cadev) bulan Juli hari ini, yang akan menunjukkan kemampuan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dari perspektif global, pelemahan dolar AS mendukung rupiah setelah data ADP Employment dan ISM Services PMI Amerika Serikat dirilis lebih rendah dari perkiraan pasar, meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve tidak akan terlalu cepat memperketat kebijakan moneter.
Baca Juga : Presiden Prabowo Subianto : Strategi Rasional Harus Digunakan Untuk Mengakhiri Kemiskinan
Selain itu, kemajuan diplomatik antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai tempat perlindungan, meningkatkan perhatian pasar.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di antara Rp17.850 dan Rp17.950 per dolar AS.
( Red )
