Jakarta, Intra62 – KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menyampaikan pesan mendalam tentang kehidupan umat manusia pada masa Yaumul Harj. Ini adalah zaman yang penuh dengan ketidakpastian dan kekacauan, dan di mana membedakan antara kebatilan dan kebenaran semakin sulit.
Saat ini, manusia menghadapi ujian yang tidak hanya datang dalam bentuk kesulitan hidup, tetapi juga melalui arus informasi yang cepat, perbedaan pendapat, konflik kepentingan, dan kecenderungan beberapa orang untuk mengutamakan hawa nafsu daripada kebenaran.
“Berhati-hatilah di akhir zaman. Zaman ketika manusia lebih mendahulukan hawa nafsu daripada kebenaran dan banyak orang menggunakan topeng”, kata KH. Miftachul Akhyar.
Ketika masyarakat hidup di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial, peringatan ini menjadi semakin penting karena semua orang sekarang dapat menerima, mengolah, dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik.
Media sosial telah menjadi alat yang sangat berguna untuk silaturahmi, pendidikan, dakwah, pengembangan bisnis, dan penyebaran pesan kebaikan. Namun, manfaatnya harus diimbangi dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab setiap orang yang menggunakannya.
Pada dasarnya, media sosial adalah sarana; kualitasnya sangat bergantung pada tujuan, moralitas, dan cara orang menggunakannya.
Ketika nafsu mulai menguasai pandangan seseorang tentang masalah, itu adalah salah satu ujian terbesar selama masa Yaumul Harj.
Keadilan tidak lagi dicari untuk menemukan kebenaran; sebaliknya, kepentingan memilih kebenaran.
Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin tampak memperjuangkan kebenaran, tetapi sebenarnya memperjuangkan kepentingan dan memuaskan nafsunya.
Ini adalah contoh manusia yang menggunakan “topeng”: mereka mungkin terlihat baik dari luar, tetapi tindakan dan perkataan mereka dapat melukai, memecah belah, dan merusak kehormatan orang lain.
Karena itu, orang-orang diminta untuk tidak mudah menilai seseorang hanya berdasarkan cerita yang beredar, klip video, judul berita, atau informasi yang belum diketahui secara menyeluruh.
Tidak ada alasan bagi umat untuk kehilangan harapan saat hidup di masa Yaumul Harj. Sebaliknya, memiliki kesempatan untuk hidup di masa yang penuh tantangan ini adalah kepercayaan dan tanggung jawab yang besar.
Dipercaya bahwa iman, ilmu, kesabaran, kejernihan hati, dan kebijaksanaan adalah kualitas yang memungkinkan Nabi Muhammad SAW untuk menghadapi tantangan masa kini.
Allah SWT tidak menempatkan seseorang di tempat yang tidak memiliki kemampuan untuk hidup.
Orang yang bijaksana tidak akan mudah tertipu oleh situasi. Dengan kebijaksanaan, seseorang dapat mengatasi perbedaan tanpa kehilangan moralitasnya.
Selain itu, pesan KH Miftachul Akhyar menjadi pengingat tentang pentingnya menggunakan media sosial dengan bijak.
Kebijaksanaan bermedia sosial tidak berarti berhenti berbicara atau menahan kritik; sebaliknya, kebijaksanaan berarti mampu mempertimbangkan kebenaran, keuntungan, dan cara penyampaian informasi.
Orang-orang harus belajar tabayun atau memeriksa setiap berita sebelum memberikan tanggapan.
Terkadang, menahan diri hingga suatu masalah menjadi jelas merupakan bentuk ibadah, kecerdasan, dan kematangan moral.
Berbicara dan menulis di media sosial memiliki tanggung jawab yang sama. Unggahan dapat memberi banyak orang pengetahuan, harapan, dan ketenangan; namun, unggahan yang dibuat tanpa pertimbangan juga dapat melukai dan merusak kehormatan orang lain.
Media sosial seharusnya menjadi ladang kebaikan karena melaluinya orang dapat menyebarkan pengetahuan, memperkuat persaudaraan, membantu satu sama lain, dan menciptakan suasana hati bagi masyarakat.
Jejak digital dapat dihapus dari catatan amal, tetapi tidak dari layar. Seseorang mungkin menggunakan akun tanpa nama, tetapi Allah SWT tidak tahu apa pun yang tersembunyi.
Setiap orang harus bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah informasi ini benar sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu.
Rais Aam PBNU mengingatkan kita bahwa menghadapi ujian Yaumul Harj tidak hanya memerlukan kecerdasan. Umat juga membutuhkan kematangan hati, kekuatan iman, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlak.
Kebijaksanaan menjadi jalan keselamatan, tabayun menjadi pedoman, dan ilmu menjadi penerang.
Pada masa Yaumul Harj, orang yang paling keras berbicara belum tentu benar. Sebaliknya, orang yang mampu mengontrol nafsunya, menjaga kehormatan sesama, dan tetap bijaksana akan selamat dan bermartabat.
Media sosial harus digunakan untuk menanam amal, bukan untuk menyebarkan dosa.
Baca Juga : Luhut temui pejabat China bahas pembayaran utang
( Red )
