• Sat. Apr 25th, 2026

Ekonom: Intervensi BI Agresif Untuk Mempertahankan Nilai Tukar di Bawah Rp17.000.

ByBunga Lestari

Mar 9, 2026

Jakarta, Intra62.com  –

Myrdal Gunarto, seorang ekonom global pasar Maybank Indonesia, mengatakan bahwa nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah, tetapi dia memperkirakan tidak akan bergerak jauh di atas Rp17.000 per dolar AS kecuali Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi agresif.

Sebagaimana diketahui, ketegangan geopolitik yang belum mereda antara Iran dan AS-Israel memengaruhi pergerakan rupiah belakangan ini.

“Seharusnya bisa dijaga di bawah Rp17.000, asalkan intervensinya memang intervensi agresif,” kata Myrdal saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Meskipun kondisi cadangan devisa secara umum dianggap cukup kuat untuk mengurangi tekanan pada rupiah, ia menambahkan bahwa bank sentral Indonesia juga harus mempertimbangkan kesinambungan cadangan devisa saat melakukan intervensi di pasar valas.

Sementara itu, kepemilikan investor asing di pasar surat utang negara dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih dalam batas yang dapat dikelola, katanya, ada potensi arus keluar modal asing dari pasar saham yang relatif kecil.

Kondisi ini mungkin membuat cadangan devisa tidak memiliki banyak tekanan untuk intervensi di pasar valas.

Namun, Myrdal mengingatkan bahwa cadangan devisa masih bergantung pada masuknya devisa dari sektor riil, terutama dari FDI dan ekspor.

Oleh karena itu, untuk menjaga aliran devisa tetap berjalan, pemerintah harus memantau perkembangan kinerja ekspor ke berbagai negara tujuan utama, termasuk AS, ASEAN, dan negara-negara Asia.

Myrdal menyatakan bahwa cadangan devisa negara harus aman jika dilihat dari potensi outflow di pasar saham dan surat utang utara negara. Asalkan kita masih mendapatkan aliran dari sisi ekspor dan FDI.

 

Untuk diketahui, pada akhir Februari 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, turun dari posisi sebelumnya sebesar 154,6 miliar dolar AS.

Penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, memengaruhi pertumbuhan cadangan devisa, menurut Bank Indonesia.

Kondisi ini terjadi saat pemerintah membayar utang luar negeri dan bank sentral Indonesia menerapkan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai tanggapan atas peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Meskipun cadangan devisa menurun, BI memastikan bahwa pada akhir Februari 2026 posisi cadangan devisa setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Selain itu, bank sentral menilai apakah cadangan devisa tersebut mampu mempertahankan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung ketahanan sektor eksternal.

Pada perdagangan Senin pagi, nilai rupiah sempat menyentuh level Rp17.010 per dolar AS di pasar spot sebelum kembali menguat ke kisaran Rp16.900-an pada siang hari.

Baca Juga : Sebuah Laporan Menyatakan Bahwa ekonomi China Akan Sangat Kuat Pada Tahun 2025.

Baca Juga : China Menetapkan Tujuan Pertumbuhan Ekonomi 4,5-5% Hingga 2026.

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/