Jakarta, Intra62.com –
Menurut Menteri Perdagangan Budi Santoso, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) akan tumbuh sebesar 16,66 persen hingga tahun 2025.
Di Jakarta, Jumat, Mendag menyatakan, “Kalau kita lihat surplus terbesar kita justru ke Amerika, India, Filipina, Belanda, dan Vietnam. Jadi ini yang terjadi pada tahun 2025. Surplus (ekspor) kita kalau dulu biasanya nomor satu India, tapi sekarang nomor dua India dan nomor satu Amerika.”
Busan menjelaskan bahwa ekspor Indonesia ke AS pada tahun lalu adalah 30,96 miliar dolar AS, naik signifikan dari 26,54 miliar dolar AS pada tahun 2024.
Mendag menyatakan bahwa peningkatan nilai ekspor ini salah satunya disebabkan oleh diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang aktif ke Negeri Paman Sam.
Busan menyatakan bahwa “Sangat dipengaruhi tentunya (oleh) diplomasi yang selama ini dilakukan Pak Presiden, saya pikir kita semua tahu ya bagaimana kiprah Pak Presiden di diplomasi internasional. Itu salah satu modal kita sebenarnya, kepercayaan dunia terhadap Indonesia.”
Selain itu, Mendag menyatakan bahwa pertumbuhan ini diharapkan menunjukkan kemajuan dalam perundingan tarif dagang AS yang masih berlangsung.
Jadi, meskipun dengan Amerika ini, atau hampir semua negara yang berhadapan dengan Amerika mengenai resiprokal, kita tetap tumbuh. Dia berharap ekspor kita terus meningkat setelah perjanjian tarif selesai.
Sementara itu, perundingan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat saat ini masih berlangsung. Pemerintah menyatakan bahwa Kesepakatan Tarif Resiprokal yang sebelumnya dijadwalkan ditandatangani pada akhir Januari 2026 telah memasuki tahap finalisasi teknis, atau draft hukum.
Pemerintah menyatakan bahwa negosiasi ini merupakan hasil dari pertemuan intensif yang diadakan pada akhir 2025 antara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Kantor Perwakilan Dagang AS atau USTR.
Salah satu bagian dari kesepakatan adalah pengecualian tarif untuk produk unggulan Indonesia yang tidak dibuat di Amerika Serikat.
Baca Juga :Mendag: Ekspor Indonesia ke AS Akan Meningkat 16,66 Persen Pada Tahun 2025.
(Red).
