Jakarta, Intra62.com – Untuk tahun 2026, PT Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN) berencana untuk mendirikan beberapa aksi korporasi. Salah satunya adalah mendirikan anak usaha di industri asuransi umum dan anak usaha di industri pembiayaan, juga dikenal sebagai multifinance.
Menurut Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu, perusahaan berencana untuk mendirikan anak usaha asuransi umum dengan modal senilai Rp250 miliar dan diharapkan selesai pada semester kedua tahun 2026.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Jakarta, Senin, dia menyatakan bahwa perusahaan juga berencana mendirikan anak usaha di sektor multifinance dengan nilai investasi sekitar Rp3-5 triliun, dengan target dapat terealisasi pada semester kedua tahun 2026.
Nixon kemudian menyatakan, “Kemudian kita usulkan ada penambahan kapital 1 di perusahaan asuransi dan pendirian anak usaha perusahaan pembiayaan syariah, dan seterusnya.”
Nixon menjelaskan bahwa BTN memiliki tujuan untuk memperkuat permodalan sebesar Rp2 triliun, yang diharapkan selesai pada semester kedua tahun 2026.
Nixon menyatakan, “Kemudian ada beberapa tindakan korporasi yang akan kami lakukan di tahun 2026, seperti penerbitan modal virtual tambahan sebesar Rp2 triliun, yang kita harapkan juga untuk membeli Danantara.”
Selain itu, perusahaan menerbitkan obligasi atau pembiayaan grosir senilai Rp4 triliun, yang dilaksanakan secara bertahap dari semester pertama hingga semester kedua tahun 2026.
Nixon menyatakan, “Kemudian ada bond Rp4 triliun atau wholesale funding.”
Dari perspektif kinerja keuangan, BTN menargetkan pertumbuhan laba bersih (net profit growth) di kisaran 20–22 persen pada 2026, dan penyaluran kredit ditargetkan tumbuh 8–9 persen per tahun (yoy), dengan NPL tetap di bawah 3%.
Selanjutnya, pertumbuhan deposit diproyeksikan sebesar 7–8 persen pada tahun 2025, dengan biaya dana, juga dikenal sebagai Cost of Fund, berada di 3,6 persen dan beban kredit berkisar antara 1 dan 1,2 persen.
“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit mungkin tetap 8-9 persen sampai tahun depan, tetapi OJK terus terang meminta kenaikan seperti 12 persen tahun lalu. Kemudian, net profit kita masih berani tulis 20-22 persen karena masalah kredit sebelumnya telah diselesaikan. Nixon menyatakan bahwa itu sudah bersih.
(Red).
