Jakarta, Intra62.com – Pada Senin (29/12), nilai tukar rupiah dibuka melemah sekitar 27 poin, atau 0,16 persen, terhadap dolar AS ke level Rp16.772 per dolar AS. dampak kebijakan pelonggaran.
Di tengah sentimen global yang masih kuat terhadap dolar AS, pelemahan di awal pekan ini menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar setelah libur panjang.
Menurut Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, rupiah masih berpotensi mengalami pelemahan dalam jangka pendek. Dia menyatakan bahwa kemungkinan kebijakan pelonggaran pemerintah dan Bank Indonesia (BI) adalah salah satu faktor yang memengaruhi perubahan mata uang domestik.
Di Jakarta, Senin, dia memberi tahu Antara bahwa, karena prospek kebijakan pelonggaran pemerintah dan Bank Indonesia, rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS.
Lukman menjelaskan bahwa kondisi pasar menjelang akhir tahun ini dapat menyebabkan pergerakan rupiah menjadi lebih tidak menentu. Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah antara Rp16.700 dan Rp16.800 per dolar AS.
Sebelum libur panjang, Rabu (24/12), rupiah sempat ditutup menguat ke posisi Rp16.745 per dolar AS. Menurut Rully Nova, analis Bank Woori, penguatan ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi AS yang melampaui perkiraan pelaku pasar.
Selain itu, penguatan rupiah didukung oleh keterlambatan rilis data ekonomi AS yang seharusnya dilakukan pada bulan Oktober 2025. Hal ini memungkinkan pelaku pasar untuk berkonsentrasi pada proyeksi pertumbuhan dari triwulan IV hingga 2025.
Baca Juga : Rupiah Menguat, Pasar Menunggu Rilis Data Ekonomi Berikutnya
Baca Juga : Keputusan Federal Reserve Yang “Dovish” Menyebabkan Rupiah Menguat.
(Red).
