Jakarta, Intra62.com – Pada Rilis data ekonomi pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin, nilai tukar rupiah bergerak naik 4 poin, atau 0,02 persen, menjadi Rp16.642 per dolar AS. Ini adalah peningkatan dari Rp16.646 per dolar AS pada hari sebelumnya.
Menurut Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, tunggu dan lihat investor menjelang rentetan data ekonomi dapat menyebabkan kurs rupiah menguat.
Menurutnya, investor cenderung menunggu dan mengantisipasi serentetan rilis data ekonomi penting yang di antaranya data pekerjaan AS NFP (Non-Farm Payrolls) dan inflasi, serta RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) pekan ini. Rupiah diperkirakan berkonsolidasi atau datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS.
Selain itu, NFP diperkirakan masih akan lemah, menambah hanya 25 hingga 25 ribu pekerjaan—jauh di bawah rata-rata angka 100 ribu.
Inflasi Indonesia diproyeksikan naik menjadi 0,3% setiap bulan (MoM) dan 3,1%; tahun ke tahun (YoY).
Sehubungan dengan RDG BI, diperkirakan bank sentral Indonesia akan menurunkan suku bunga untuk meredakan tekanan terhadap rupiah.
Lukman menyatakan, “Kalau suku bunga diturunkan, maka akan membuat imbal hasil yang lebih rendah menjadi kurang menarik.”
Baca Juga : Pinjaman 300 Juta Dolar AS Untuk Proyek Jalan Di Indonesia Disetujui Oleh ADB.
Baca Juga : Pada Awal Desember, Harga Batu Bara Turun Lagi Menjadi 98,26 Dolar AS.
(Red).
