Jakarta , Intra62.com . China Hadapi ” Penyakit Pikun ” , Krisis Kemanusiaan Mengintai ? . China sedang menghadapi masalah penyakit dementia. Negara Tirai Bambu mungkin menghadapi masalah besar dalam sepuluh hingga lima belas tahun ke depan . Yaitu yang dapat mengganggu sistem kesehatan dan menyebabkan krisis kemanusiaan.
Sekarang dianggap sebagai ancaman besar bagi kesehatan masyarakat, krisis demensia di China semakin memburuk seiring bertambahnya usia populasi.
Jumlah orang di Negeri Tirai Bambu yang menderita demensia meningkat dari 4 juta pada tahun 1990 menjadi 17 juta pada tahun 2021, menurut South China Morning Post (SCMP). Dan pada tahun 2050, jumlah ini dapat mencapai 115 juta orang jika tidak ada tindakan yang efektif.
Antara tahun 1990 dan 2021, jumlah penderita demensia di seluruh dunia meningkat dua kali lipat, menjadikan China sebagai negara dengan pertumbuhan kasus demensia tercepat di dunia.
Di dunia saat ini, China adalah negara dengan jumlah orang yang menderita demensia terbanyak. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS One oleh Fudan University memperkirakan bahwa dua dari tiga orang yang menderita demensia di seluruh dunia akan berasal dari China pada tahun 2050.
China memiliki lebih dari 280 juta orang dewasa (2024). Sampai 2050, populasi yang lebih tua akan mencapai 500 juta orang. Dengan semakin banyak orang tua, risiko demensia akan meningkat secara eksponensial.
Fakta Dementia di China
| Jumlah penderita demensia (2020) | 15 juta orang (terbesar di dunia) |
|---|---|
| Proyeksi 2050 | >35 juta orang (diperkirakan akan melonjak drastis) |
| Jenis paling umum | Alzheimer’s disease (60–70% kasus demensia) |
| Biaya ekonomi tahunan (2020) | >US$ 100 miliar (biaya langsung dan tidak langsung) |
| Tingkat diagnosis | <10% penderita mendapat diagnosis resmi |
| Rasio caregiver informal | 1 pasien dijaga oleh 1–2 anggota keluarga tanpa pelatihan |
| Akses layanan kesehatan | Sangat terbatas di wilayah pedesaan dan kota tingkat bawah |
Ini menimbulkan kekhawatiran karena jumlah spesialis neurologi dan psikiatri yang tersedia untuk pasien lanjut usia sangat rendah. Selain itu, panti jompo jarang memiliki fasilitas atau pelatihan khusus untuk orang yang menderita demensia.
Dalam jangka panjang, masalah ini menjadi tantangan besar bagi keluarga. Perawatan informal (oleh keluarga) menimbulkan tekanan ekonomi dan emosional yang signifikan, dan banyak keluarga harus berhenti bekerja untuk merawat orang tua mereka.
Apa sebenarnya dementia?
Istilah umum untuk demensia digunakan untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif yang cukup parah sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang. Fungsi kognitif termasuk berpikir, mengingat, berbahasa, mengambil keputusan, dan mengendalikan emosi.
Menurut website Alzheimer Indonesia, demensia terjadi ketika otak mengalami kerusakan karena penyakit, seperti penyakit Alzheimer atau serangkaian stroke, yang menyebabkan kehilangan memori, kesulitan berpikir, pemecahan masalah, dan bahkan kehilangan bahasa.
Penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia, dan ada berbagai jenis demensia, dengan beberapa yang lebih umum daripada yang lain karena dinamai sesuai dengan kondisi yang menyebabkannya.
Apa yang menyebabkannya? Lonjakan besar ini tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor pun. Namun, diabetes, obesitas, dan merokok adalah masalah kesehatan publik utama yang membayangi China dalam dekade terakhir.
Salah satu tingkat tertinggi di dunia, sekitar 48% pria dewasa di China adalah perokok aktif. Sebaliknya, paradoksnya adalah bahwa angka harapan hidup yang lebih tinggi terkait dengan kemungkinan terkena demensia karena semakin banyak orang tua.
Demensia Menjadi Beban Dunia
Demensia sekarang menjadi masalah ekonomi global, tidak hanya di China. Biayanya saat ini mencapai US$1,3 triliun per tahun, dan pada tahun 2030, diperkirakan akan meningkat menjadi US$2,8 triliun. Jika negara itu mengalami demensia, itu akan menjadi ekonomi terbesar ke-14 di dunia.
Beban ini terdiri dari biaya medis langsung (20 persen), perawatan sosial (40 persen), dan perawatan keluarga informal (40 persen). Ini menunjukkan bagaimana penyakit ini masuk secara rahasia ke dapur keluarga. Di negara berkembang seperti China, beban informal ini sering kali lebih besar.
Baca juga : Perdana Menteri China Mengajak Indonesia Kelangsungan Perdagangan Bebas
(Anisa-red)
