• Mon. Sep 28th, 2026

Kebijakan Yang Menjaga BI Rate Memastikan Bahwa Ekonomi Riil Berjalan

ByLia Uyee

Sep 28, 2026

Jakarta, Intra82.com – Eko Listyanto, seorang ekonom dari Institut untuk Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef), mengatakan bahwa kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate memastikan bahwa ekonomi sektor riil seperti perumahan dan UMKM tetap berjalan.

Di Jakarta, Senin, Eko menyatakan bahwa ini juga merupakan bagian dari upaya untuk menjaga operasi ekonomi sektor riil.

Dia menyatakan bahwa kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, yang menaikkan suku bunga acuan, telah menyebabkan sedikit pergeseran dalam nilai tukar mata uang.

Namun, itu tidak dapat dihindari karena setiap negara, terutama negara berkembang di seluruh dunia, merasakan dampak kebijakan Federal Reserve tersebut.

Menurut kebijakan BI-nya, upaya untuk mempertahankan BI Rate ini merupakan bagian dari laju kredit setidaknya. Bunga kredit tidak langsung naik secara tiba-tiba, seperti yang terjadi di perbankan domestik. Hal itu menumbuhkan optimisme dan memberi jalan untuk bunga yang lebih murah bagi sektor perumahan dan UMKM selanjutnya,” katanya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti sebelumnya berpendapat bahwa tingkat BI saat ini, yang tetap pada level 5,75 persen, masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi (yang akan meningkat untuk waktu yang lebih lama).

Menurut Desry, karena ekonomi domestik saat ini terus berkembang, bank sentral Indonesia juga melakukan hal yang sama melalui kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung lainnya seperti kebijakan regional, kebijakan UMKM, dan pendalaman pasar keuangan.

Sementara itu, Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Senior BI, menyatakan bahwa bank sentral memilih untuk tidak menaikkan BI-Rate karena hal itu dapat berdampak pada kenaikan harga-harga domestik.

Secara keseluruhan, ia menilai fundamental ekonomi domestik saat ini cukup baik karena ditopang oleh permintaan dan konsumsi domestik serta investasi, terlepas dari kenaikan harga minyak global dan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia antara 4,9 dan 5,7 persen pada 2026.

Baca Juga : Benarkah Uang Senilai Rp480 Miliar Mengalir ke Muktamar NU ? Logika Fisik dan Transaksinya Dipertanyakan

( Red )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/bonus-new-member/

https://sdlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/

https://paudlabumblitar.sch.id/wp-content/spaceman/