Jakarta, Intra62.com – Pada penutupan perdagangan Senin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 87 poin atau 0,49% menjadi Rp17.810 per dolar AS. Ini meningkat dari penutupan sebelumnya di level Rp17.897 per dolar AS.
Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengatakan cadangan devisa (cadev) Indonesia yang kuat mendorong penguatan rupiah.
Menurutnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin, kondisi cadangan devisa yang relatif kuat masih mendukung rupiah.
Cadev Indonesia tercatat sebesar 145,3 miliar dolar pada akhir Juli 2026, turun tipis dari 145,6 miliar dolar pada bulan sebelumnya.
Dianggap bahwa tingkat cadv yang masih tinggi memungkinkan Bank Indonesia (BI) untuk mengintervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dari perspektif internasional, rupiah mengalami peningkatan seiring indeks dolar AS berada di 99,6, terendah sejak awal Juni, setelah data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Pasar disebutkan akan melihat data inflasi AS dalam jangka pendek, yang akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan ekspektasi kebijakan Federal Reserve pada pertemuan September 2026.
Amru menyatakan bahwa inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan mendorong penguatan dolar AS.
Rupiah diperkirakan masih berpeluang menguat secara terbatas antara Rp17.750 dan Rp17.900 per dolar AS dalam jangka pendek.
Dia menyatakan bahwa ekspektasi pelonggaran kebijakan Federal Reserve mungkin meningkat jika inflasi AS tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar. Ini akan menekan dolar AS dan memungkinkan rupiah untuk menguat.
Baca Juga : OJK Menangani 124 Kasus Pasar Modal, 89 Masih Dalam Proses Pemeriksaan
( Red )
