Jakarta, Intra62.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) berkomitmen untuk membantu memastikan prinsip ekonomi sirkular diterapkan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan bahwa seluruh produksi makanan dan limbahnya tidak berdampak negatif pada lingkungan.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) dan Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono menyatakan bahwa dia akan bekerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memastikan bahwa proses produksi, pengelolaan limbah makanan, dan air limbah tidak bocor ke lingkungan. Sebaliknya, mereka akan diubah menjadi sumber daya ekonomi dan ekologi yang bermanfaat. Pernyataan ini dikonfirmasi pada hari Senin di Jakarta.
Jika proses produksi dapat sirkular, kita punya Program MBG, dan SPPG ada di mana-mana, maka kami dapat mencapai hal-hal yang mungkin kami capai dengan cepat. Kita akan membantu SPPG membuat ekosistem sirkular seperti KLH/BPLH. Wamen Diaz menyatakan bahwa circularity harus ada di setiap tindakan kita, termasuk program prioritas Presiden.
Wamen Diaz menyatakan pada Indonesia Net-Zero Summit 2026 di Jakarta pada Sabtu (1/8) bahwa beberapa SPPG percontohan telah menerima pendampingan teknis dan penyediaan infrastruktur lingkungan dari KLH/BPLH.
Hasilnya menunjukkan bahwa pemanfaatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dapat membantu pengairan sektor pertanian, yang dapat berdampak nyata pada masyarakat sekitar.
Wamen Diaz menyatakan, “Di (SPPG) Halim, KLH/BPLH memberikan IPAL untuk mengelola air limbah, selain mengelola sampah. Di sebelah SPPG ada sawah sekitar 6,5 hektare yang dapat dipanen tiga kali karena air irigasi dari IPAL. Dengan demikian, MBG bukan hanya memberi makan, tetapi juga dapat memproduksi makanan.”
KLH/BPLH mengatakan bahwa ekonomi sirkular bergantung pada kearifan lokal dan teknologi tinggi.
Wamen Diaz menemukan bahwa praktik terbaik yang sangat fleksibel adalah SPPG Gorontalo di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Makanan sisa digunakan untuk pakan ternak dan minyak jelantah diolah kembali untuk kepentingan masyarakat di lokasi tersebut.
Salah satu langkah penting untuk mengatasi ancaman perubahan iklim global adalah memperkuat prinsip sirkular sendiri.
Wamen Diaz mengingatkan bahwa tanpa tindakan mitigasi dan adaptasi yang signifikan dari seluruh sektor pembangunan, pulau-pulau Indonesia terancam.
Wamen LH Diaz Hendropriyono menyatakan, “Kita pastikan Indonesia tetap ada, karena kalau kita tidak lakukan apa-apa, ada ramalan dari Maplecroft yang mengatakan bahwa sekitar 1500 pulau kecil akan tenggelam pada tahun 2050 dan lebih dari 115 pulau sedang akan tenggelam pada tahun 2100, jadi kita harus pastikan apa yang kita produksi ada sirkulasi, supaya Indonesia tetap ada dan ramalan tersebut menjadi salah.”
Baca Juga : BGN Melarang SPPG Menggunakan Minyak, Beras, dan Gas Subsidi
( Red )
